CITIZEN REPORTER

Pelantikan Pengurus PGMI Sulsel Dirangkai Seminar Internasional Guru Madrasah Bermartabat

Seminar internasional guru madrasah diikuti sekitar 1.500 peserta utusan dari pengurus PGMI dan madrasah se-Sulsel.

Pelantikan Pengurus PGMI Sulsel Dirangkai Seminar Internasional Guru Madrasah Bermartabat
Citizen Reporter
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Guru Madrasah Indonesia (DPP PGMI) Drs H Syamsuddin MM foto bersama Ketua DPW PMGI Sulsel Dr H Kaswad Sartono MAg didampingi Kakanwil Kemenag Sulsel H AnwarAbubakar dan Kepala Biro Kesra Sulsel Suherman, seusai acara pelantikan, Minggu 24 Maret 2019, di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang, Kota Makassar. 

Jurlan Em Saho’as, Tim Media Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Sulsel melaporkan dari Asrama Haji Sudiang, Makassar.

Makassar -Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Guru Madrasah Indonesia (DPP PGMI) Drs H Syamsuddin MM melantik pengurus DPW PGMI Sulsel masa jabatan 2018-2023 di aula Arafah Asrama Haji Sudiang, Kota Makassar, Minggu (24/3/2019).

Pelantikan tersebut dirangkaikan dengan rapat kerja dan seminar internasional bertajuk “Guru Madrasahdalam Prospek dan Tantangannya di Era Teknologi”.

Menampilkan empat narasumber masing-masing Dr H Abd Rauf Muhammad Amin membahas topik “Prospek dan tantangan guru madrasah di era teknologi”, Dr H A Umar MA (Membangun komitmen dan integritas guru madrasah menuju madrasah hebat dan bermartabat), Dr H Kaswad Sartono MAg. (Peran PGMI dalam membangun kualitas pendidikan madrasah di Sulsel), dan Prof Dr H Hamdan Juhannis, MA PHd (Madrasah zaman milenial dari tinjauan sosialogis).

Ketua Umum DPP PGMI H Syamsuddin dalam sambutannya sesaat setelah melantik pengurus DPW PGMI Sulsel mengatakan, PGMI bukanlah sekedar organisasi profesi tapi juga sekaligus sebagai wadah perjuangan bagi guru-guru madrasah di tanah air ini.

Di Indonesia lanjut H Syamsuddin, ada sekitar 87.000 madrasah dengan jumlah guru 1 juta lebih yang bertebaran sampai di pelosok-pelosok terpencil di seluruh wilayah tanah air.

Mereka dengan jiwa pengabdian dan ketulusan hati mendidik anak-anak bangsa sekalipun dengan insentif yang sangat rendah dan fasilitas madrasah yang serba terbatas. 

“Dengan jumlah madrasah dan guru yang cukup besar itu dan bertebaran di seluruh wilayah nusantara, maka jelas merupakan kekuatan yang cukup besar di dalam menentukan masa depan bangsa dan negeri ini,” ungkap H Syamsuddin.

Menurut H Syamsuddin, kehadiran madrasah dan pesantren di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia ini didirikan oleh para kiai yang berjuang untuk Indonesia merdeka dari bangsa penjajah, namun setelah Indonesia kini berusia 70 tahun umat Islam tetap termarginalkan.

“Bahkan belakangan muncul istilah Islam radikal, teroris yang awalnya berlatar belakang ketidak-adilan dan keterbelakangan. Padahal sesungguhnya ajaran Islam tidaklah begitu. Ada Syiah, wahhabi, ISIS, dan segala macam atribut Islam yang jadi persoalan utama di Indonesia. Namun saya menyatakan semua itu hanyalah bentukan bangsa lain yang sengaja mengadu domba umat Islam, agar kita tidak bisa bersatu, bertengkar terus menerus, sementara orang lain berdansa
menyaksikan perpecahan di kalangan umat Islam,” tegasnya.

Halaman
12
Penulis: CitizenReporter
Editor: Hasrul
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved