Apa Kabar Akper Wajo? Begini Nasibnya Kini

Beberapa pintu di gedung bercat coklat muda tersebut tertutup. Cuma ada 2 motor di parkiran jelang siang

Apa Kabar Akper Wajo? Begini Nasibnya Kini
hardiansyah/tribunwajo.com
Akademi Keperawatan Wajo yang terletak di sebelah utara Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lamaddukelleng Sengkang, nyaris tak ada aktivitas 

TRIBUN-WAJO.COM, SENGKANG - Akademi Keperawatan Wajo yang terletak di sebelah utara Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lamaddukelleng Sengkang, nyaris tak ada aktivitas. Sepi.

Beberapa pintu di gedung bercat coklat muda tersebut tertutup. Cuma ada 2 motor di parkiran jelang siang, Selasa (19/03/2019).

Pasca pemberitaan izin  11 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Sulawesi dicabut, yang salah satunya adalah Akper Wajo, tak satupun civitas akademik kampus perawat tersebut yang angkat bicara.

Ada dua perempuan berbaju putih khas perawat yang sedang berjalan di koridor. Tak ada tanggapan soal kabar tersebut. Sesekali menggeleng, sesekali menuyinggingkan senyum sembari menyembunyikannya di balik telapak tangan.

Satu di antara mereka cuma menunjukkan ruangan Tata Usaha Akademi Keperawatan tersebut.

Di ruangan bersekat tripleks tersebut, cuma ada satu pegawai. Dirinya enggan berkomentar terkait putusan Kemenristekdikti menandatangani Surat Keputusan yang mencabut Izin Pendirian 11 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Sulawesi.

"Saya tidak bisa berkomentar, tunggu saja ibu direktur," katanya yang juga enggan disebutkan identitasnya.

Lebih lanjut, berdasarkan informasi dari pegawai tersebut, Direktur Akper Wajo, Nuraini Yunus sementara melakukan pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Wajo.

Salah satu warga sekitar, Zahar menyebutkan, Akper Wajo yang terletak di Jl Kartika Candra Kirana tersebut sepi.

"Sedikit memang mahasiswanya, sudah lama sebenarnya itu isu (penutupan) beredar. Makanya banyak mahasiswanya pindah," katanya.

Pada awal Februari 2019 lalu, Menristekdikti menandatangani Surat Keputusan yang mencabut Izin Pendirian 11 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Sulawesi.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX Sulawesi, Jasruddin mengatakan, salah satu penyebabnya adalah rendahnya jumlah peminat program studi yang ditawarkan PTS tersebut.

Sehingga PTS tidak mampu membiayai operasional PTS dan tidak dapat memberikan layanan pendidikan yang berkualitas.

"Saya menghimbau agar PTS di Sulawesi tidak ragu untuk menutup program studi yang sudah tidak laku lagi, dan membuka program studi kekinian yang relevan dengan kondisi kita saat ini yang memasuki era Revolusi Industri 4.0", ujar Prof Jasruddin, Senin (18/3/2019).

Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved