Pengamat Terorisme: Penembakan di New Zealand karena Kecemburuan Sosial

Tak hanya di Selandia Baru, tapi diberbagai negara lainnya juga merasakan khawatir di masyarakat.

Pengamat Terorisme: Penembakan di New Zealand karena Kecemburuan Sosial
dokumen pribadi
Pengamat Teroris, Yanuardi Syukur 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Penembakan yang terjadi di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Barua sudah menewaskan 49 orang dan menciptakan rasa khawatir di masyarakat.

Tak hanya di Selandia Baru, tapi diberbagai negara lainnya juga merasakan khawatir di masyarakat.

Pengamat Teroris, Yanuardi Syukur yang juga alumni Unhas mengatakan, apa yang terjadi di Selandia Baru adalah teroris yang dilakukan oleh seorang penganut supremasi kulit putih atas kulit berwarna.

Dalam manifesto yang ditulis oleh pelaku, Brenton Tarrant (28), ia menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya merupakan dalam rangka menjaga budaya kulit putih agar tidak tergusur oleh imigran yang datang di berbagai negara. Terutama yang beragama Islam.

Dalam pengamatannya, Tarrant di Eropa misalnya, tingkat kelahiran (fertility rate) masyarakatnya menurun dan mereka umumnya saat ini berusia tua. "Sementara itu, para imigran yang notabene Muslim tingkat kelahirannya tinggi, memiliki keluarga besar, dan berusia muda," ungkap Yanuardi via rilis, Minggu (17/3/2019).

Yanuardi menjelaskan, ada semacam kecemburuan sosial dari Tarrant atas fakta itu. Kemudian, dia berpikir untuk membuat sebuah gerakan melanjutkan apa yang pernah dilakukan oleh para tokoh pejuang supremasi kulit putih di masa lalu.

Teror terhadap masjid di Selandia Baru menurut dia, kata Yanuardi, adalah bagian dari upaya untuk menghancurkan para imigran terutama yang beragama Islam.

"Apa yang ditulis oleh Tarrant dalam "The Great Replacement" adalah provokasi kepada masyarakat kulit putih agar melakukan penyerangan terhadap kulit berwarna," katanya.

Yanuardi menilai bahwa ia lalai membaca masyarakat dunia yang saat ini telah meninggalkan diverensiasi berdasarkan ras, serta kecenderungan untuk hidup bersama dalam berbagai budaya (multikultur).

"Teror yang dilakukan Tarrant itu tidak hanya dilakukan oleh satu orang. Kelihatannya ia memiliki jejaring organisasi atau ide dengan berbagai rekannya di berbagai negara yang ingin menegakkan supremasi kulit putih," ungkap Yanuardi.

"Kita perlu berhati-hati dengan provokasi dari teror yang dilakukan Tarrant. Jangan sampai masyarakat dunia menjadi saling curiga, saling memata-matai serta saling membenci karena alasan rasial. Maka, penguatan kerjasama antar berbagai komponen masyarakat dunia sangatlah penting untuk menciptakan dunia yang damai dan anti terorisme," ungkapnya.(ziz)

Laporan wartawan tribuntimurcom @abdul-azis-alimuddin

Penulis: Abdul Azis
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved