Analisa Dokter Neurologi Taruna Ikrar, Soal Pelaku Penembakan Masjid di Selandia Baru

Kasus ini tercatat sebagai insiden pembunuhan massal terburuk di Selandia Baru sejak 1943.

Analisa Dokter Neurologi Taruna Ikrar, Soal Pelaku Penembakan Masjid di Selandia Baru
Tribun/Nur Fajriani
Dr Taruna Ikrar 

 
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Aksi terorisme yang menyerang sebuah masjid di Selandia Baru/ New Zealand pada Jumat (15/3/2019), mengejutkan banyak pihak.

Kejadian tersebut menewaskan hingga 49 orang dan melukai sedikitnya 20 orang lainnya, penembakan di masjid Al Noor di Christchurch, saat akan dilangsungkannya shalat Jumat.

Kasus ini tercatat sebagai insiden pembunuhan massal terburuk di Selandia Baru sejak 1943.

Aksi penembakan secara brutal di Selandia Baru juga dikecam oleh berbagai kalangan.

Dokter Spesialis Neurologi Taruna Ikrar yang ikut prihatin apa yang terjadi di Selandia Baru/ New Zealand.

“Pemerintah diseluruh dunia harus memperhatikan bahwa terorisme itu bisa terjadi dimana saja dan kapan saja,”katanya saat dihubungi via whatsapp, Sabtu (16/3/2019).

Sebagai seorang ahli dibidang neurosains (ilmu saraf) Taruna mengatakan terdapat beberapa faktor yang berakibat adanya perilaku ekstrim pada orang-orang tertentu.

“Dalam konteks neurosains kemungkinan terrorism (terorisme) itu bisa muncul akibat akibat banyak faktor yang saya klasifikasikan di tiga faktor utama,”ujarnya.

Faktor pertama menurutnya karena aspek doktrin dari beberapa grup sehingga beberapa orang melakukan kejahatan secara berkelompok

Kedua, karena faktor dendam dan yang ketiga akibat faktor patologi dari otak.

“Doktrin adalah salah satu proses bagaimana memberikan janji terhadap seseorang atas sesuatu janji yang besar sehingga apa yang dilakukan teroris itu mereka anggap tindakan hero (kepahlawanan). Dendam juga memicu tindakan ekstrim atau frustasi yang berlebihan," unya.

"Faktor ketiga itu berasal dari otak. Seseorang yang melakukan tindakan ekstrim artinya struktur patologi otak sudah tidak normal. Sehingga mereka yang melakukan pembunuhan tidak merasa bersalah malahan merasa bangga," tambahnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan apapun penyebabnya, baik dari faktor doktrin, dendam, ataupun patologi otak hal tersebut tentunya menjadi tanggung jawab suatu negara untuk melindungi warganya.

Taruna berharap kejadian ini mendapat perhatian lebih dari berbagai negara.

Penulis: Ina Maharani
Editor: Ina Maharani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved