Warga Iran Ingin Buat KTP Elektronik, Ini Kata Disdukcapil Takalar

Behnam menikahi wanita bernama Suriyani asal Pabentengan, Desa Mannongkoki, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar.

Warga Iran Ingin Buat KTP Elektronik, Ini Kata Disdukcapil Takalar
syahrul/tribuntakalar.com
Kepala Bidang Pendaftaran Penduduk Disdukcapil Takalar menunjukkan kartu keluarga warga negara asing asal Iran, Behnam Halem di kantor Disdukcapil Takalar, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar, Jumat (11/3/2019). 

TRIBUNTAKALAR.COM, TAKALAR - Seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Republik Islam Iran, Behnam Halem yang telah beberapa tahun menetap di Takalar belum dapat melakukan perekaman Kartu Tanda Penduduk (KTP) elekronik di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Takalar.

Kepala Bidang Pendaftaran Penduduk Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Takalar, Ayatullah Daeng Romo mengatakan Behnam Halem telah mengurus KTP elektronik namun saat ini masih belum dilakukan penerbitan karena belum terinstalnya software input data KTP elektronik untuk orang asing (OA).

Behnam menikahi wanita bernama Suriyani asal Pabentengan, Desa Mannongkoki, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar.

"Behnam itu orang asing pertama yang melapor ke Disdukcapil untuk perekaman KTP elektronik. Dia ikut istrinya yang orang Takalar setelah menikah. Behnam sebenarnya telah memenuhi persyaratan untuk diinput dalam data warga negara asing untuk KTP elektronik," kata Ayatullah kepada TribunTakalar.com di kantor Disdukcapil Takalar, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar, Senin (11/3/2019) siang.

Behnam telah memiliki kartu tinggal tetap (KITAP) aktif dari Kantor Imigrasi. Selain itu, sejumlah dokumen lainnya telah memenuhi syarat.

"Sesuai undang-undang memang OA berhak memiliki KTP elektronik dengan pembaruan sesuai masa berlaku KITAP-nya," tambah Ayatullah.

"Orang asing (OA) atas nama Behnam Halem telah memenuhi persyaratan, dan kemudian itu nanti kita buatkan KTP elektronik dengan status warga negara asalnya. Meski nantinya memiliki KTP elektronik, Behnam punya batas haknya. Misal, ia tak dapat memilih di Pemilu April nanti. Jadi sebenarnya OA memiliki KTP elektronik itu tak masalah. Yang tak boleh kalau OA terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilu," tutur Ayatullah.

Menurut Ayatullah, proses dan tampilan penerbitan KTP elektronik untuk orang asing (OA) dan Warga Negara Indonesia (WNI) sama. Hal yang membedakan dalam kartu tersebut hanya penggunaan bahasa.

“KTP elektronik untuk OA itu sama dengan KTP warga negara Indonesia. Cuman bedanya itu di bahasa. Misalnya jenis kelamin laki-laki, dia pakai Bahasa Inggris, male untuk laki-laki dan perempuan female. Untuk status kewarganegaraanya itu tertulis juga dari negara asalnya," jelasnya.

"Kami upayakan segera menginstal software untuk input data OA dalam pembuatan KTP elektronik," tutupnya.

Laporan Wartawan TribunTakalar.com, @syahrul_padli

Penulis: Muh Syahrul Padli
Editor: Imam Wahyudi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved