OPINI

OPINI - Ayahku Idolaku, Anakku Sahabatku

Dampak positif keterlibatan peran ayah dalam pengasuhan ternyata sangat besar mempengaruhi perkembangan anak (Dagun, 2002).

OPINI - Ayahku Idolaku, Anakku Sahabatku
tribun timur
Psikolog Pendidikan dan Pengamat Tumbuh Kembang Anak

Oleh:
Novita Maulidya Jalal MPsi Psikolog
(Psikolog Pendidikan dan Pengamat Tumbuh Kembang Anak)

Pada zaman sekarang ini, adanya perubahan sosial, ekonomi, serta budaya memberikan pengaruh pada masyarakat dalam mempersepsi peran ibu dan ayah. Ibu tidak lagi harus berada di rumah karena adanya tuntutan sebagai wanita karir yang juga bekerja di luar rumah untuk membantu perekonomian keluarga.
Adapun figur ayah saat ini juga mulai terlibat di dalam pengasuhan dan perkembangan anak. Saat ini, figur ayah dapat berperan dalam berbagai hal diantaranya pengasuhan, partisipasi dalam aktivitas dan masalah pendidikan. Mari kita simak lebih jauh mengenai Peran Ayah (Fathering) dari perspektif ilmu psikologi.
Apa yang dimaksud dengan peran ayah (Fathering) itu? Keterlibatan ayah dalam pengasuhan adalah suatu partisipasi aktif ayah secara terus menerus baik pada kebutuhan fisik, kognisi, dan afeksi dalam semua area perkembangan anak yaitu fisik, emosi, sosial, spiritual, intelektual dan moral (Andayani & Koentjoro, 2004; Garbarino, 1992).
Seorang ayah yang terlibat positif dalam pengasuhan melalui aspek afektif, kognitif, dan perilaku disebut dengan istilah good fathering. Mengapa ayah terdorong untuk terlibat dalam pengasuhan? Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi.
Antara lain, seorang ayah yang secara emosional kurang lekat dengan pekerjaannya (career saliency) dapat meluangkan lebih banyak waktunya untuk anak-anaknya. Oleh karena itu, Ayah dengan job salience yang rendah berpeluang besar terlibat dalam perawatan/pengasuhan anaknya.
Penelitian telah menunjukkan bahwa Ayah yang mempersepsi diri mereka mempunyai keterampilan dan kepercayaan diri dalam mengasuh anak, berpeluang besar untuk terlibat dan tanggungjawab untuk tugas merawat anaknya.
Ayah yang religius cenderung bersikap egalitarian dalam urusan rumah tangga dan anak-anak. Mereka tidak keberatan untuk mengerjakan tugas rumah tangga dan mengasuh anak. Selanjutnya, sikap egalitarian inilah yang meningkatkan keterlibatan ayah dengan anak-anak.
Dampak positif keterlibatan peran ayah dalam pengasuhan ternyata sangat besar mempengaruhi perkembangan anak (Dagun, 2002). Pola pembicaraan ayah dengan balita lebih diarahkan ke hal yang sifatnya pertanyaan. Misalnya apa, kemana? Hal ini mengakibatkan anak akan lebih komunikatif dalam berinteraksi, menggunakan kosakata dan kalimat yang lebih bervariasi (Rowe,2004).
Saat anak memasuki usia sekolah, anak akan berpeluang untuk berprestasi akademik. Dukungan akademik yang diberikan oleh ayah, berkorelasi positif dengan motivasi akademik anak saat remaja kelak (Alfaro,2006). Dengan demikian, keterlibatan ayah dalam perkembangan kognitif anak akan berefek secara jangka panjang, di mana anak berpeluang untuk menunjukkan prestasi akademik serta ekonomi yang baik, sukses berkarier, dan pencapaian pendidikan terbaik (Flouri,2005).
Secara keseluruhan kehangatan yang ditunjukkan oleh ayah akan berpengaruh besar bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis anak dan meminimalkan masalah perilaku yang terjadi pada anak (Rohner & Veneziano,2001).
Studi yang dilakukan oleh Marsiglio (Santrock, 2007) menyebutkan bahwa ayah yang memiliki gaya pengasuhan otoritatif lebih cenderung memiliki anak yang sedikit mengalami masalah eksternal, seperti menekan ekspresi emosi atau justru berperilaku agresif dan memiliki masalah internal seperti kecemasan atau depresi, dibandingkan dengan ayah yang menggunakan gaya pengasuhan lainnya.
Kehangatan, bimbingan serta pengasuhan yang diberikan oleh ayah memprediksi kematangan moral anaknya. Hal tersebut dapat diasosiasikan dengan perilaku prososial dan perilaku positif yang dilakukan baik oleh anak perempuan maupun anak laki-lakinya kelak. (Mosely&Thompson,1995).
Dalam studi lebih lanjut, pada usia 41 tahun, pria dan wanita yang pernah memperoleh kehangatan dari ayahnya, maka pria maupun wanita itu memiliki peluang besar untuk membentuk hubungan sosial yang lebih baik pada kualitas perkawinan maupun persahabatannya.
Dampak Buruk
Absennya ayah dalam kehidupan anak akan membawa berbagai dampak yang cukup berarti bagi perkembangan seksual maupun identitas seksual anak. Pada anak laki-laki, hubungan yang sangat dekat dengan ibu dikombinasikan dengan hubungan yang renggang dengan ayah akan menyebabkan terjadinya gangguan identitas gender.
Bila ditelusuri, kurangnya model kepriaan, sebagaimana yang terjadi bila ayah jarang hadir dalam kehidupan anak, akan membuat identifikasi anak laki-laki lebih kuat kepada figur kewanitaan. Sebagai tambahan, anak yang menderita transeksualisme lebih banyak yang memiliki ayah yang menolak dan kurang peduli secara emosional serta ibu yang sangat memperhatikan, terlalu terlibat dan terlalu melindungi anaknya tersebut.
Dalam hal perilaku seksual, absennya ayah akan cenderung membuat anak laki-laki mencari laki-laki lain sebagai pasangan seksualnya. Di lain pihak, anak perempuan tanpa kehadiran ayah mengembangkan kebutuhan yang luar biasa akan penegasan pria akan keberadaan dirinya. Sedemikian besar kebutuhan anak perempuan ini sehingga ia cenderung melemparkan dirinya pada laki-laki.
Selain itu anak perempuan mungkin akan melakukan aktivitas seksual dengan banyak pasangan. Absennya ayah atau ketidakpedulian ayah terhadap anak perempuannya dapat membawa akibat buruk yang bahkan lebih serius dibanding perceraian. Sebuah survei menunjukkan sebagian terbesar dari wanita tuna susila berasal dari keluarga tanpa ayah.
Kondisi latar belakang keluarga yang tanpa kehadiran ayah juga terjadi pada sebagian besar pelaku kriminal wanita. Selain itu sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa lesbianisme muncul dari keluarga tanpa kasih seorang ayah.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat kita pahami bahwa peran ayah sangatlah berarti terhadap perkembangan dan masa depan anak-anaknya. Bagaimanapun, kewajiban utama ayah sebagai pencari nafkah dan pelindung, akan dapat lebih sempurna menjadi teladan dan idola anak-anaknya ketika ayah tersebut hadir dalam merawat, bermain, dan bertumbuh bersama anak-anaknya secara langsung. Jadi, siapkah ibu mendukung ayah untuk menjadi idola dari anak-anaknya?

Catatan: Tulisan ini telah dipublikasikan juga di Tribun Timur edisi print, Jumat 01 Maret 2019

Editor: Aldy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved