Meneropong Pasar Mobil di Tahun Politik, Edy Junaedy: Tidak Akan Lebih Baik dari 2018

Ibarat sebuah lokomotif besar, politik akan menggiring semua aspek kehidupan, termasuk aspek ekonomi tahun 2019 dan tahun selanjutnya

Meneropong Pasar Mobil di Tahun Politik, Edy Junaedy: Tidak Akan Lebih Baik dari 2018
sakinah sudin
Edy Junaedy 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tahun 2019, jadi lebaran Politik lima tahunan bangsa Indonesia. Pemilihan presiden, anggota legislatif menjadi isu terpanas.

Ibarat sebuah lokomotif besar, politik akan menggiring semua aspek kehidupan, termasuk aspek ekonomi tahun 2019 dan tahun selanjutnya

Praktisi Otomotif Edy Junaedy melihat, berdasarkan Outlook Ekonomi, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Baca: Pengembang Indonesia Akan Gelar Property Expo di Mall Panakkukang

Baca: TRIBUNWIKI: Perjalanan Panjang Vespa Sejak 1946, Sempat Bikin Motor Gandeng dan Mobil, Ini Modelnya

Baca: Begini Jadinya Jika Cucu Presiden Jokowi Jan Ethes Satu Mobil dengan Anak Artis Terkaya Indonesia

"Secara nasional angkanya dikisaran 5,0 persen-5,4 persen. Artinya, pembangunan Indonesia tidak akan lebih baik dari 2018 serta ditingkatan mikro daya beli masyarakat akan melandai," kata Edy via WhatsApp, Selasa (5/2/2019).

Apalagi dilihat dari neraca perdagangan Indonesia yang defisit pada akhir 2018 menjadi peringatan bahwa produk Impor masih lebih jumawa dibanding produk ekspor.

"Defisit neraca perdagangan seperti ini menguras devisa negara. Suka tidak suka, keterbatasan devisa menyebabkan pelemahan rupiah terhadap mata uang asing. ujungnya, daya beli masyarakat menurun," katanya.

Berangkat dari sini, salah satu dari lima sektor yang berperan dalam mempengaruhi neraca perdagangan adalah sektor otomotif.

"Perlu diluruskan bahwa, importasi kendaraan secara utuh (completely built-up/CBU) maupun terurai (completely knocked-down/CKD) tidak dapat dipandang sebagai penggali jurang devisa. Tidak pula hanya melihat dalam kacamata barang konsumtif. Mobil tetaplah barang modal, baik dipakai korporasi maupun individu," katanya.

Ia meminjam kata Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla yang macet adalah tanda kemajuan. Tentu pernyataan ini mengundang polemik. Namun, pengusaha otomotif perlu menyamakan perspektif bahwa kendaraan tidaklah sekadar alat taranportasi," ujarnya.

Kendaraan, baik itu Passenger Car (kendaraan penumpang) maupun Commercial Vehicle (kendaraan usaha), memiliki peran besar menciptakan efisiensi dan memacu produktivitas dalam kehidupan manusia. kesimpulannya, kendaraan memiliki nilai strategis.

Usaha mamujukan ekonomi Indonesia melalui making Indonesia 4.0 telah memetakan industri otomotif sebagai
senjata utama meningkatkan neraca perdagangan.

"Berbagai produk otomotif telah memulai langkah tersebut. berbagai brand otomotif dunia telah berinvestasi dan membangun pabrikasi otomotif tanah air. Sebut saja Toyota, Honda serta yang teranyar Wuling dan Mitsubishi," katanya.

Selain untuk memenuhi kebutuhan tanah air, mereka juga melakukan ekspor ke berbagai negara. Brand yang terakhir lebih membanggakan lagi karena menjadikan Indonesia sebagai basis produksi MPV Xpander ke seluruh dunia. (*)

Penulis: Muhammad Fadhly Ali
Editor: Nurul Adha Islamiah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved