Tolak Huntara, Korban Gempa dan Likuifaksi Balaroa Palu Datangi Kantor Walikota dan DPRD

Ratusan warga yang menjadi korban gempa dan likuifaksi di Kelurahan Balaroa, Sulawesi Tengah, mendatangi Kantor Walikota dan DPRD

Tolak Huntara, Korban Gempa dan Likuifaksi Balaroa Palu Datangi Kantor Walikota dan DPRD
TRIBUN TIMUR/ABDUL HUMUL FAAIZ
Ratusan korban gempa dan likuifaksi Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Palu, Sulawesi Tengah, saat mendatangi Kantor Walikota Palu, Senin (14/1/2019). Mereka menolak pembangunan huntara dan meminta percepatan pembangunan huntap. (Tribunpalu.com/Abdul Humul Faaiz) 

Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Abdul Humul Faaiz

TRIBUN-TIMUR, PALU - Ratusan warga yang menjadi korban gempa dan likuifaksi di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Palu, Sulawesi Tengah, mendatangi Kantor Walikota dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu, Senin (14/1/2019).

Aksi demonstrasi oleh ratusan penyintas gempa dan likuifaksi ini sebagai bentuk penolakan terhadap pembangunan Hunian Sementra (Huntara) dan menuntut percepatan pembangunan Hunian Tetap (Huntap).

Massa aksi, mulanya berorasi penyampaikan tuntuan mereka di depan Kantor DPRD Kota Palu.

Baca: VIDEO: Gelar Pelepasan 13 Purnawirawan, Ini Pesan Kapolres Pangkep

Baca: Satu Black Box Lion Air JT 610 Akhirnya Ditemukan, Lokasinya di Sini

Baca: Masih Ada APK Caleg di Jeneponto Dipasang di Pohon

Ratusan korban gempa dan likuifaksi Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Palu, Sulawesi Tengah, saat mendatangi Kantor Walikota Palu, Senin (14/1/2019). Mereka menolak pembangunan huntara dan meminta percepatan pembangunan huntap. (Tribunpalu.com/Abdul Humul Faaiz)
Ratusan korban gempa dan likuifaksi Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Palu, Sulawesi Tengah, saat mendatangi Kantor Walikota Palu, Senin (14/1/2019). Mereka menolak pembangunan huntara dan meminta percepatan pembangunan huntap. (Tribunpalu.com/Abdul Humul Faaiz) (TRIBUN TIMUR/ABDUL HUMUL FAAIZ)

Baca: VIDEO: Pindah Tugas, Polwan Pangkep Ini Dapat Kenang-kenangan Cincin

Baca: PSM Butuh Pelatih, Karyawan Bosowa Semen Pilih Riedl atau Peter Segart

Baca: KSOP Parepare Akan Panggil Nahkoda MT Golden Pearl Terkait Tumpahan Minyak di Laut

Baca: Tiket Pesawat Dikabarkan Turun, Bandingkan Harganya Sekarang, UPG-CKG Paling Murah Rp 1,082 Juta

Ketua Forum Korban Likuifaksi Balaroa, Abdurahman M Kasim dalam orasinya mengatakan, musibah pada 28 Sepetember 2018 silam menjadi catatan kelam bagi warga balaroa.

Menurutnya, banyak warga yang kehilangan orang tua, kakak, adik serta anak.

"Kami tidak ingin larut dalam kesedihan dan penderitaan atas jasad keluarga yang belum ditemukan," katanya.

Namun kata dia, hingga saat ini kehidupan dan penghidupan korban bencana khususnya di Balaroa, masih terlunta-lunta di kamp-kamp pengungsian.

"Status kami sebagai korban tidak jelas, Dimana peran serta negara," kata dia bertanya.

Kata dia, dalam pasal 27 Undang-undang Dasar 1945, sangat jelas menegaskan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak demi kemanusiaan.

Halaman
12
Penulis: abdul humul faaiz
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved