Bantah Kabur ke Jakarta, Kuasa Hukum Tersangka Hendrik Wijaya: Klien Saya Sudah Izin ke Penyidik

Hendri Wijaya merupakan tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan Madrasah Aliah Negeri Insan Cendikia (MAN IC)

Bantah Kabur ke Jakarta, Kuasa Hukum Tersangka Hendrik Wijaya: Klien Saya Sudah Izin ke Penyidik
Polsek Bandara Sultan Hasanuddin
Hendrik (kemeja putih) saat dijegal dan ditangkap tim penyidik Tipikor Polda Sulsel di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. 

Laporan wartawan Tribun Timur Hasan Basri

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Tim Kuasa Hukum tersangka Hendrik Wijaya, Djalaluddin Djalil sangat menyayangkan sikap penyidik Kepolisian Daerah Sulsel melakukan penangkapan terhadap klienya, Senin (14/01/2019).

Hendri Wijaya merupakan tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan Madrasah Aliah Negeri Insan Cendikia (MAN IC) ini ditangkap di Bandara Sultan Hasanuddin, karena dituding hendak kabur ke Jakarta.

"Tudingan itu tidak benar. Klien saya sudah meminta izin ke penyidik sejak kemarin malam," kata Djalaluddin Djalil kepada wartawan.

Baca: Pengakuan Mantan Bupati Bekasi, Menteri Tjahjo Kumolo Menelpon Tolong Perijinan Meikarta Dibantu!

Baca: Bursa Pelatih PSM, Appi: Tidak Usah Riedl dan Petar Segrt

Baca: Promo Awal Tahun, Gammara Hotel Hadirkan ‘School Holiday Package’

Menurut Djalaluddin, sebelum rencanan berangkat ke Jakarta sudah mencoba meminta izin kepada penyidik yang menangani perkara tersebut.

Tetapi, tidak ada respon atau kepastian dari penyidik untuk memberikan izin, bahkan saat di Bandara, Klienya mengirimkan tiket dan foto nomor boarding passnya ke penyidik.

"Kalau klien saya mau kabur, tidak mungkin dia minta izin ke penyidik Polda," tegasnya.

Menurut Djalaluddin meminta izin ke penyidik karena ada kepeluarnya Jakarta membayar tagihan utang yang sudah lama belum dilunasi.

Sekeaar diketahui , Senin (14/1/2019) pagi tadi, selain menahan Hendrik, penyidik Subdit III Tipikor Ditreskrimsus resmi menahan ketiga tersangka kasus proyek pembangunan MAN IC Gowa.

Peran tiga tersangka dalam kasus ini, penyidik menyebutkan Hendrik sebagai rekanan, Andi M. Anshar sebagai PPK, dan Alimudin Anshar sebagai konsultan. (San)

Penulis: Hasan Basri
Editor: Nurul Adha Islamiah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved