Disdik Bulukumba Catat 10.087 Orang Putus Sekolah Hingga 2018

Sebanyak 10.087 warga Kabupaten bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), tercatat putus sekolah.

Disdik Bulukumba Catat 10.087 Orang Putus Sekolah Hingga 2018
TRIBUN TIMUR/FIKRI ARISANDI
Kepala Disdik Bulukumba, Ahmad Djanuaris, yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis (10/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Firki Arisandi

TRIBUNBULUKUMBA.COM, UJUNG BULU - Sebanyak 10.087 warga Kabupaten bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), tercatat putus sekolah.

Angka tersebut merupakan rangkuman Dinas Pendidikan (Disdik) bulukumba, hingga akhir Desember 2018.

Dari total jumlah tersebut, sebanyak 6.398 usia 15-59 tahun yang putus sekolah, dan sebanyak 3.689 untuk usia 59 tahun ke atas.

Baca: Jalanan Menuju Kampus STAI DDI Pangkep Berlubang

Baca: Hotman Paris Kaget Wawancara Eks Mucikari Artis Robby Abbas, Ungkap Pria Hidung Belang dari Pejabat

Baca: Ini Penyebab Aset Abu Tours Belum Bisa Dibagikan ke Jemaah

Baca: Nasdem Sinjai Jadikan Survei LSI Sebagai Motivasi Buat Kader

Baca: Jarang Terjadi! Acara Malam Mappacci Putra Nurdin Abdullah, Pertemukan SYL dan Amin Syam

Baca: Cari Tahu Melempemnya Industri Maritim Sulsel, Ikatan Alumni Teknik Unhas Adakan Tudang Sipulung

Baca: Hujan Berpotensi Guyur Kabupaten Wajo Sejak Pagi Hingga Sore

Baca: Ketua Bawaslu Pangkep: Dirut Perusda Sulsel Tidak Terbukti Melanggar

Baca: Lowongan Kerja BUMN Bulog, Lulusan SMK D3 & S1, Tutup 13 Januari, Buruan Daftar Online di Link Ini

Baca: Resmob Polsek Panakkukang Bekuk DPO Curas

Jumlah tersebut tersebar di 10 kecamatan yang ada di Butta Panrita Lopi, julukan Bulukumba.

Kepala Disdik Bulukumba, Ahmad Djanuaris, yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis (10/1/2019), menjelaskan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut, diantaranya faktor ekonomi.

"Faktor ekonomi bukan karena pembayaran sekolah, sekarang kan sudah gratis. Tapi ini lebih kepada kebutuhan ekonomi keluarga. Mereka membantu orang tua untuk mencari nafkah," jelas Ahmad Djanuaris.

Penyebab lainnya, lanjut Djanuaris, yakni banyak yang memutuskan pendidikan gegera mengikuti orangtua menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

"Kalau kasus seperti itu contohnya begini. Biasa mereka mengikuti orang tua jadi TKI. Berangkat kelas dua SD, pas kembali temannya sudah kelas tiga. Karena kita tidak bisa langsung naikkan ke kelas tiga, dan mereka juga malu tinggal kelas, mereka biasanya memutuskan untuk berhenti saja," tambah Djanuaris.

Namun Djanuaris mengaku, bahwa Disdik Bulukumba tidak akan tinggal diam. Hingga kini, pihaknya masih terus melakukan pendataan warga yang putus sekolah.

Halaman
12
Penulis: Firki Arisandi
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved