MNP Mendesak, Pelindo IV Gunakan Cara Ini untuk Kendalikan Antrean Kapal

Ini sebagai upaya dan langkah taktis menghadapi masalah antrean yang terjadi di Terminal Petikemas Makassar beberapa waktu belakangan ini.

MNP Mendesak, Pelindo IV Gunakan Cara Ini untuk Kendalikan Antrean Kapal
sanovra/tribuntimur.com
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah (tengah) bersama Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto (kanan) mendengarkan penjelasan Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Farid Padang (kiri) saat acara soft launching Makassar New Port tahap I di Jl Sultan Abdullah Raya, Buloa Tallo, Makassar, Sulsel, Jumat (2/11). Makassar New Port tahap I yang menggunakan biaya sebesar Rp2,5 triliun tersebut resmi beroperasi dan melakukan ekspor 'direct call' perdana dengan rute Makassar ke Eropa dan Amerika. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) terus mengebut pembangunan dan pengerukan dermaga baru Makassar New Port (MNP).

Ini sebagai upaya dan langkah taktis menghadapi masalah antrean yang terjadi di Terminal Petikemas Makassar beberapa waktu belakangan ini.

Baca: TRIBUNWIKI: Ini Profil Pendiri Sekolah Impian untuk Pemulung Febriansyah, Data Diri, dan Pengalaman

Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang saat ini pihaknya tengah dipersiapkan dermaga MNP untuk kedatangan kapal yang akan melakukan bongkar muat barang di salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut.

“Secara total, progress pembangunan MNP Tahap I sudah mencapai 93,13 persen per 4 Januari 2019. Untuk tahap 1 paket A progressnya sudah 100 persen, paket B 93,11 persen dan Paket C sudah mencapai 82,06 persen,” kata Farid dalam rilisnya, Senin (7/1/2019).

Selain fokus pada pembangunan MNP, menurut CEO Pelindo IV ini, pihaknya juga akan melakukan penambahan alat di TPM, yaitu 1 unit Container Crane (CC) dan 2 unit Rubber Tired Gantry (RTG), sehingga total terminal petikemas tersibuk di KTI ini akan memiliki 7 unit CC dan 18 unit RTG. Juga tambahan 5 unit alat Reach Stacker.

Baca: Ditendang Saat Beli Makanan, Pemuda Simbang Laporkan Warga Bantimurung

Untuk mengendalikan antrean kapal, dia mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan optimalisasi receiving dan delivery kontainer di TPM agar kecepatan di dermaga seimbang dengan pengaturan kontainer di lapangan penumpukan.

“Termasuk solusi lainnya adalah, mekanisme kapal di pelabuhan konvensional jika tambatannya kosong. Juga melakukan penataan kontainer pada container yard saat jam tidak sibuk, yaitu pukul 24.00 hingga 05.00 Wita," ujarnya.

Baca: Ahok Sulit Jadi Presiden, Menteri, Gubernur atau Anggota DPR Usai Bebas dari Penjara, ini Alasannya

Disamping itu kata Farid, pihaknya juga akan melakukan truck losing untuk Full Container Load (FCL) maupun Less Than Container Load (LCL) yang langsung dapat keluar ke depo pelayaran masing-masing, agar aktivitas bongkar dan muatan akan lebih cepat dengan memisahkan bongkaran dan muatan dengan membuat block plan setiap kapal dengan optimasilisasi RTG pada setiap bongkaran dan muatan yang akan diangkut.

“Kami juga segera melakukan penetapan berthing window dengan maksimum 3 hari bongkar dan jumlah antrian 7 kapal. Juga passing grade yang dilewati, dikombinasikan dengan sistem first come dan first service agar semua pelayanan dapat dipenuhi dan mengurangi komplain," katamya.

Baca: Bareng Garuda ke Raja Ampat Hanya Rp 7,58 Juta, 3 Hari 2 Malam

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fadhly Ali
Editor: Hasrul
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved