Jumlah Desa Tertinggal di Sulsel Berkurang! Ini Indikator Penilaian dari BPS

Berdasarkan hasil Podes Sulsel 2018, tercatat ada 3.049 wilayah administrasi pemerintah setingkat desa yang terdiri dari 2.255 desa, 792 kelurahan

Jumlah Desa Tertinggal di Sulsel Berkurang! Ini Indikator Penilaian dari BPS
tribun timur/fahrizal syam
Kepala BPS Sulsel Yos Rusdiansyah. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Fahrizal Syam

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) merilis data Potensi Desa (Podes) Sulsel 2018, di kantor BPS Sulsel, Jl Haji Bau Makassar, Senin (10/12/2018).

Berdasarkan hasil Podes Sulsel 2018, tercatat ada 3.049 wilayah administrasi pemerintah setingkat desa yang terdiri dari 2.255 desa, 792 kelurahan, dan 2 UPT/SPT.

Kepala BPS Sulsel Yos Rusdiansyah menjelaskan, BPS melakukan penghitungan Indeks Pembangunan Desa (IPD) yang menunjukkan tingkat perkembangan desa dengan kategori tertinggal, berkembang, dan mandiri.

Baca: Hotman Paris Hutapea Bereaksi Gini Bahas Perzinahan Hilda dan Billy Syahputra, Sampai Tumpahkan Kopi

Baca: TRIBUNWIKI: Ini Daftar Menu dan Harga di Dimsum Taichan Manakarra Mamuju

IPD adalah indeks komposit yang menggambarkan tingkat kemajuan atau perkembangan desa, dengan skala 0-100, dan hanya dihitung pada wilayah administrasi setingkat desa yang berstatus pemerintahan desa.

IPD menunjukkan tingkat perkembangan desa dengan status tertinggal (kurang dari atau sama dengan 50), berkembang (lebih dari 50 namun kurang dari atau sama dengan 75), dan mandiri (lebih dari 75).

Dari data Podes 2018, jumlah desa tertinggal sebanyak 168 atau 7,45 persen, desa beekembang 1.967 atau 87,23 peesen, dan desa mandiri sebanyak 120 atau 5,32 persen," ungkapnya.

Yos menerangkan, pada tahun 2013, sebagian besar desa di Sulsel berstatus desa berkembang, namun pada IPD 2018 menunjukkan adanya perbaikan status desa.

"Tahun 2018 cukup berkembang, desa tertinggal berkurang sebesar 123 desa dimana sebelumnya pada 2014 ada 290 desa tertinggal. Sementara desa mandiri bertambah 90 desa, dimana empat tahun lalu hanya 29 desa yang berstatus mandiri," ungkap mantan Kepala BPS Sumatra Selatan ini.

Lanjur Yos, penilaian IPD dilihat dari lima dimensi yakni pelayanan dasar, kondisi infrastruktur, transportasi, pelayanan umum, dan penyelenggaraan pemerintahan desa. Kelima dimensi tersebut terdiri dari 12 variabel dan 42 indikator, diman pada tahun 2017, semua dimensi penyusunan IPD meningkat.

"Salah satu indikator yang mengalami kenaikan tinggi pada dimensi pelayann dasar adalah ketersediaan dan kemudahan akses ke apotek. Saat ini apotek semakin banyak berkembang hingga ke desa-desa, ini cukup berpengaruh terhadap perkembangan pelayanan dasar," jelas Yos.

Selain kemudahan akses ke apotek, beberapa indikator lain yang menjadi penilaian kemajuan suatu desa yakni ketersediaan tempat buang air besar bagi keluarga, lalu lintas dan kualitas jalan untuk transportasi antardesa, penanganan gizi buruk, dan otonomi desa.

"Jadi desa-desa di Sulsel yang masih masuk kategori tertinggal, kemungkinan belum memenuhi indikator-indikator tersebut. Kita harap ke depan semakin diperhatikan dan semakin banyak desa berkembang atau bahkan mandiri di Sulsel," pungkasnya. (*)

Lebih dekat dengan Tribun Timur, subscribe channel YouTube kami:

Follow juga akun instagram official kami:

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Arif Fuddin Usman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved