Jurusan Hubungan Internasional Universitas Bosowa Bincang Pelestarian Adat

Ketua Program Studi Hubungan Internasional juga turut hadir dalam kegiatan yang menghadirkan Arman Muhammad dan Sardi Razak sebagai fasilitator terseb

Jurusan Hubungan Internasional Universitas Bosowa Bincang Pelestarian Adat
dok humas unibos
Program studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, gelar bincang adat di ruang senat Unibos, Jumat (7/12/2018). Hadir sebagai narasumber Rukka Sombolinggi Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN 

Laporan Wartawan Tribun Timur Munawwarah Ahmad

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sadar akan beragamnya adat budaya di Indonesia khususnya, program studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, gelar bincang adat di ruang senat Unibos, Jumat (7/12/2018).

Kegiatan yang terdiri dari workshop penelitian masyarakat adat yang bertajuk Beyond Native: Trajectory of Indigenous Perspective in International Relations, Studium Generale yang bertajuk Voice of Global Indigeneity: Recognizing the Struggle of Indigenous People in Indonesia, dan Seri Kuliah Tamu yang mengusung tema ‘Mendengarkan Pasang Ri Kajang’.

Hadir sebagai narasumber Rukka Sombolinggi Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Sementara Eko Rusdianto yang juga seorang jurnalis dan peneliti yang memiliki pengalaman dalam hal ini mengenai masyarakat adat hadir sebagai penanggap.

Baca: Lawan PSMS, Pelatih PSM Robert Alberts Siapkan Pengganti Hasyim Kipuw, Siapa Pemain Tersebut?

Baca: TRIBUNWIKI: Makan Nasi Pakai Ayam di Dalam Kotak Ala Richsam, Ini Menu dan Harganya

Ketua Program Studi Hubungan Internasional juga turut hadir dalam kegiatan yang menghadirkan Arman Muhammad dan Sardi Razak sebagai fasilitator tersebut.

“Terminologi masyarakat adat itu sendiri lahir ketika para ketua dari tiap masyarakat adat yang ada bermusyawarah untuk menentukan istilah penyebutan mereka sebagai korban pembangunan negara saat itu," kata Rukka saat memaparkan materinya.

Lebih dekat dengan Tribun Timur, subscribe channel YouTube kami:

Follow juga akun instagram official kami:

Lanjut Rukka, masyarakat adat itu beragam atau bermacam-macam jadi sulit didefinisikan. Dan itu menjadi tugas negara untuk menentukan definisi sesuai situasi dan kondisi negara masing-masing. Di Indonesia pun tidak ada definisi mengenai masyarakat adat.

“Penakluk masyarakat adat ialah negara, modal, dan agama. Contohnya ketika agama kristen masuk ke Toraja, melarang upacara adat seperti upacara penyembuhan, upacara pengusiran hama, bahkan pembuatan artefak," kata Sekjen AMAN tersebut.

“Artefak katanya harus dibakar padahal tidak dibakar tapi dibawa pulang ke negaranya. Coba ke Amerika, Amsterdam, tengok museumnya. Pasti ada,” lanjutnya.

Bahkan hingga saat ini kata Rukka, komunitas adat terpencil dianggap memiliki penyakit sosial. Untuk seri kuliah tamu sendiri menghadirkan Topo, Perwakilan Masyarakat Adat Ammatoa Kajang, Bulukumba. (*)

Penulis: Munawwarah Ahmad
Editor: Arif Fuddin Usman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved