Kabupaten Wajo Belum Layak Penyandang Disabilitas

Pada peringatan Hari Disabilitas Internasional yang jatu pada Senin (03/12/2018) ini, Tribunwajo.com berbincang-bincang dengan Kepala SLBN 1 Wajo

Kabupaten Wajo Belum Layak Penyandang Disabilitas
hardiansyah/tribunwajo.com
Kepala SLBN 1 Wajo, Dahnia D. 

Laporan wartawan TribunWajo.com, Hardiansyah Abdi Gunawan

TRIBUNWAJO.COM, WAJO - Di Kabupaten Wajo, terdapat 2 Sekolah Luar Biasa (SLB). Adalah SLB Mirah Edukasi Wajo dan SLBN 1 Wajo.

Pada peringatan Hari Disabilitas Internasional yang jatu pada Senin (03/12/2018) ini, Tribunwajo.com berbincang-bincang dengan Kepala SLBN 1 Wajo, Dahnia D. Kali ini, pihak sekolahnya tidak membuat perayaan Hari Disabilitas Internasional, sebab para peserta didiknya fokus menghadapi ujian semester.

"Ini lagi ujian semester, guru-gurunya juga hendak pelatihan. Ini juga masih ada suasana pasca merayakan Hari Anak Nasional beberapa waktu lalu," kata Dahnia, yang ditemui di ruangannya, Senin (03/12/2018) sore.

Di SLBN 1 Wajo, terdapat 74 siswa yang terdiri dari 52 siswa SD, 14 siswa SMP, dan 8 siswa SMA. Para peserta didik tersebut tidak hanya berasal dari Kabupeten Wajo sendiri, melainkan ada yang berasal dari Kabupaten Enrekang, Kabupaten Pinrang, Kota Palopo, Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Bone.

Meski ada juga penyandang disabilitas yang bersekolah di SLBN 1 Wajo, tidaklah serta merta membuat Kabupatem Wajo layak bagi penyandang disabilitas.

"Belum tersedianya fasilitas bagi penyandang disabilitas di tempat umum jadi alasannya," kata guru yang sejak 1986 tersebut mengabdi di SLBN 1 Wajo.

Tidak adanya paving blok khusus di pedestrian bagi para penyandang disabilitas, juga di tempat-tempat umu seperti perkantoran menjadi alasa kuat Dahnia menyebut Kabupetan Wajo belum lah layak bagi orang-orang berkebutihan khusus tersebut.

Bahkan, di SLBN 1 Wajo sendiri, Dahnia pun tidak malu mengakui bahwa sekolah yang dikelolanya juga masih jauh dari standar layak.

"Kemarin dapat bantuan dari pusat, paving-paving khusus itu kan belum ada dijual, makanya saya desain sendiri menggunakan batu alam," katanya menunjukkan jalur khusus bagi para penyandang disabilitas tersebut.

Hal tersebut juga berlaku di lapangan pekerjaan. Olehnya, di SLBN 1 Wajo, matode pengajaran yang diberikan lebih menekankan aspek keterampilan.

Untuk tingkat SD sendiri, pendidikan keterampilan diberikan sebanyak 50% dan pendidikan akademik sebanyak 50%. Untuk SMP, keterampilan diajarkan sebanyak 60% sedang akademik 40%. Sementara di tingkat SMA, keterampilan sebesar 70% dan akademik 30%.

Para penyandang tunarungu, tunawicara, tunanetra, tunadaksa, tunagrahita, dan pengidap autis tersebut memang dipersipkan untuk mandiri pasca lulus.

"Yang jelas mereka persiapakan untuk mandiri, mereka memiliki keterampilan, dengan harapan ketika terjun ke masyarakat mereka punya skil," kata perempuan yang sejak 2010 menjabat sebagai Kepala SLBN 1 Wajo tersebut.

Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved