Catatan Perjalanan ke Yaman: Pusat Krisis Itu Bernama Sana'a

Sejak api konflik mulai berkobar, Sana’a lah yang menjadi pusat terjadinya krisis pengungsi terbesar. Wajar, di kota inilah konflik sipil itu dimulai.

Catatan Perjalanan ke Yaman: Pusat Krisis Itu Bernama Sana'a
ACT
Perjalanan dari Tarim menuju Sana'a, menempuh 39 jam perjalanan. Kering kerontang di kanan-kiri jalan.  

Catatan perjalanan Rudi Purnomo dari Tim Sympathy of Solidarity (SOS) for Yemen I - Aksi Cepat Tanggap (ACT)

TRIBUN-TIMUR.COM - Tidak mudah bagi siapa pun untuk berkunjung ke sebuah negara yang sedang dirundung perang.

Serupa dengan pengalaman Rudi Purnomo dari Tim Sympathy of Solidarity (SOS) for Yemen I - Aksi Cepat Tanggap (ACT) dalam perjalanannya menuju ke Yaman, salah satu negara Jazirah Arab yang terletak di barat daya Asia.

Negara ini juga belakangan disebut-sebut sebagai negara terdampak krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

Krisis diawali dengan perang, dan semakin buruk dengan kondisi ekonomi yang ambruk, wabah kolera, juga kelaparan akut di seluruh negeri.

Dari Indonesia menuju Yaman, perjalanan ditempuh melalui jalur Yordania, Senin (5/11) lalu. Setibanya di Tanah Yaman, kekhawatiran sempat menghampiri Rudi.

"Saya mereka-reka, seperti apa eskalasi konflik yang sedang menderu sepanjang hari di sana?" ungkap Rudi. Namun pertanyaan itu perlahan terjawab ketika ia berhasil sampai di Sana’a, ibu kota Yaman, pada Selasa (13/11/2018) dini hari.

Perjalanan dari Tarim menuju Sana'a, menempuh 39 jam perjalanan. Kering kerontang di kanan-kiri jalan. 
Perjalanan dari Tarim menuju Sana'a, menempuh 39 jam perjalanan. Kering kerontang di kanan-kiri jalan.  (ACT)

Bagi Rudi, perjalanan menuju Kota Sana’a tidaklah mudah.

Ia harus menempuh waktu 39 jam perjalanan dan menembus 35 pos keamanan.

Rute dan buruknya sarana komunikasi menjadi kendala selama perjalanan. 

Halaman
1234
Editor: Sakinah Sudin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved