Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Program Mentan Dongkrak Respon Positif Pada Pemerintah  

Dia menegaskan rilis BPS dengan metode KSA diperoleh surplus 2,85 juta ton beras dan data stock beras di BULOG saat ini 2,4 juta ton

Editor: Anita Kusuma Wardana
HANDOVER
Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prima Gandhi 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR-Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prima Gandhi menilai berbagai program strategis Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman selama empat tahun terakhir, menghasilkan berbagai prestasi reformasi birokrasi dan capaian makro pertanian. Hal ini mendapatkan direspon positif dari publik dan kalangan dunia usaha.

“Berkaitan dengan data beras. Komentar saya ya dari dulu hingga sekarang sudah satu pintu sumber BPS. Tidak ada kontroversi data. Semua data Kementan pun bersumber BPS,” demikian tegas Gandhi di Bogor, Minggu (4/11/2018).

Dia menegaskan rilis BPS dengan metode KSA diperoleh surplus 2,85 juta ton beras dan data stock beras di BULOG saat ini 2,4 juta ton, artinya beras surplus dan cukup aman. Ini juga berkat program-program pemerintah yang direspon positif petani.

Baca: Kementan Fokus Meningkatkan Produksi dan Mutu Jagung Serta Kesejahteraan Petani

Baca: Wapres dan Ketum Perpadi Sebut Stok Beras Cukup, RI Tidak Butuh Lagi Impor

Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman didampingi Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar dan Kapolda Sulbar Brigjen Pol Baharudin Djafar, saat menghadiri panen jangung seluas 300 Ha di Desa Lariang, Kecmatan Tikke Raya, Kabupaten Pasangkayu, Rabu (31/10/2018).
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman didampingi Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar dan Kapolda Sulbar Brigjen Pol Baharudin Djafar, saat menghadiri panen jangung seluas 300 Ha di Desa Lariang, Kecmatan Tikke Raya, Kabupaten Pasangkayu, Rabu (31/10/2018). (TRIBUN TIMUR/NURHADI)

“Fakta prestasi tersendiri, surplus 2,8 juta ton, merupakan hasil nyata penyediaan pasokan beras. Berbagai program perbaikan irigasi, bantuan alat alat, pupuk benih, asuransi pertanian dan lainnya memacu semangat petani dan memberikan citra postif bagi petani. Ini wujud nyata Pemerintah telah hadir ditengah tengah petani,” tegas Gandhi.

“Jadi kalau ada pendapat miring dari pengamat yang tidak memahami pertanian, ya mungkin harus banyak turun ke lapangan,” imbuhnya.

Selanjutnya, Gandhi menyebutkan citra positif dalam menopang perekonomian nasional dapat dilihat dari berbagai prestasi Kementan juga dapat dilihat dari kinerja ekspor.

Kebijakan mendorong ekspor dengan berbagai kemudahan regulasi dan pelayanan jemput bola telah direspon positif dunia usaha.

Dari data BPS, kinerja ekspor pertanian 2017 sebesar Rp 441 triliun naik 24 persen dibandingkan 2016 sebesar Rp 385 triliun.

Presiden RI, Jokowi bersama Menteri BUMN, Rini Sumarno; Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman; dan Jaksa Agung, M Prasetyo saat meninjau gudang beras.
Presiden RI, Jokowi bersama Menteri BUMN, Rini Sumarno; Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman; dan Jaksa Agung, M Prasetyo saat meninjau gudang beras. (DOK KEMENTAN RI)

Pertanian menurunkan inflasi bahakan makanan menjadi pada 2017 sebesar 1,26 persen turun 88,9 persen dibandingkan 2013 sebesar 11,35 persen.

“Saya menilai dampak kebijakan regulasi dengan mencabut 291 Permentan, mampu mendongkrak investasi tahun 2017 menjadi Rp 45,9 triliun naik 14 persen pertahun dibandingkan 2013 sebesar Rp 29,3 triliun. Ini dari data BKPM,” tutur Gandhi.

Tak hanya, sambung Gandhi, investasi yang tepat serta alokasi APBN yang fokus telah berdampak pertumbuhan PDB pertanian 2017 sesuai sumber BPS sebesar Rl 1.344 triliun naik Rp 350 triliun dibandingkan 2013 sebesar Rp 995 triliun.

Data BPS pun menujunkkan kemiskinan di pedesaan pada Maret 2018 sebesar 15,81 juta jiwa menurun 10,88 persen dibandingkan Maret 2013 sebesar 17,74 juta jiwa.

“Jadi para pengamat jangan mengaitkan kinerjan pertanian dengan kepentingan politik hajatan Pilpres 2019. Ini kan tidak etis,” tukasnya.

Kemarin, (3/11), Ketua Komisi IV DPR Edhy Prabowo mengatakan sektor pertanian Indonesia kini sudah sangat maju, sehingga mampu panen tiga kali dalam setahun. Karenya, ia mengingatkan Pemerintah tidak menjadikan musim paceklik sebagai dasar untuk menetapkan kebijakan impor beras di masa mendatang.

“Kondisi sekarang sudah berubah. Dengan terobosan dan persiapan yang dilakukan Kementerian Pertanian, meski musim paceklik, di beberapa daerah petani masih bisa menanam. Panen yang biasanya cuma dua kali dalam setahun, kini bertambah menjadi tiga kali,” katanya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved