Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unhas Jadi Pioner Bentuk Asosiasi Tingkat Magister

Diskusi ini adalah rangkaian pelantikan pengurus AMPIK yang merupakan asosiasi mahasiswa pascasarjana ilmu komunikasi Unhas.

Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unhas Jadi Pioner Bentuk Asosiasi Tingkat Magister
CITIZEN REPORTER
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unhas, Prof Dr Arsunan Arsin dan mahasiswa. Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi (AMPIK) Unhas berhasil dibentuk dan dilantik, Kamis (25/10/2018) di Aula Prof. Syukur Abdullah Fisip Unhas. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Atas inisiasi Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Hasrullah, M.Si, Asosiasi Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi (AMPIK) Unhas berhasil dibentuk dan dilantik, Kamis (25/10/2018) di Aula Prof. Syukur Abdullah Fisip Unhas.

Dekan Fisip Unhas, Prof. DR. Armin, M.Si mengatakan bahwa tradisi pembentukan organisasi di kalangan mahasiswa pascasarjana harus diikuti oleh program studi yang lain.

"Saya mendorong prodi-prodi lain yg ada di fisip unhas membuat hal yangg sama, ini adalah awal inisiasi yang baik," tuturnya dalam rilis yang diterima Tribun.

Baca: Mahasiswa FKM Unhas Juara Lomba Public Health Case di UI

Menyambung perkataan Dekan Fisip unhas, Wakil Rektor bidang kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Arsunan Arsin mengatakan bahwa pembentukan asosiasi ini dapat menjadi pioneer bagi yang lainnya.

"Asosiasi ini membuka jalan bagi prodi lain untuk melakukan hal yang sama, dan pasca ilmu komunikasi telah menjadi pelopornya. Hal ini sejalan dengan keingininan unhas untuk mengembalikan roh unhas sebagai laboratorium kepemimpinan," ungkapnya.

Baca: FKM Unhas Jajaki Pertukaran Mahasiswa Indonesia-Australia

Usai Pelantikan pengurus asosiasi yang berada dibawah naungan Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unhas ini, AMPIK laksanakan kuliah umum dengan tema ‘Huru-hara Intelektual: Demokrasi dan Korupsi’.

Pakar Ilmu Studi Demokrasi Bonn University, Jerman, Dr Phill Sukri mengatakan, demokrasi merupakan suatu sistem persaingan yang dilembagakan untuk kekuasaan. Sehingga terkadang dibutuhkan konflik dalam derajat tertentu, agar tetap terjadi persaingan dalam keberbedaan pilihan dan kepentingan.

Namun, kata dia, yang disayangkan pada kondisi saat ini adalah terlalu banyak konflik yang justru menghasilkan ketidakstabilan sistem.

“Demokrasi senantiasa diharapkan dapat mengakomodasi berbagai tuntutan dari masyarakat. Namun Terlalu banyak akomodasi atas tuntutan tersebut akan menyulitkan dalam menentukan tuntutan yang paling penting,” kata Phill

Menurut Phill, keuntungan hidup dengan sistem demokrasi memungkinkan tidak terjadinya penumpukan kekuasaan yang berlebihan. Meski begitu, lanjut dia, di sisi lain demokrasi juga tetap harus memiliki kemampuan untuk bertindak cepat pada waktu tertentu yang membutuhkan adanya kekuatan besar.

Halaman
12
Penulis: CitizenReporter
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved