Lagi-Lagi Pacu Ekspor, Kementan Dorong Budidaya Tanaman Hias Bambu Suji dan Lidah Mertua

Lagi-Lagi Pacu Ekspor, Kementan Dorong Budidaya Tanaman Hias Bambu Suji dan Lidah Mertua

Lagi-Lagi Pacu Ekspor, Kementan Dorong Budidaya Tanaman Hias Bambu Suji dan Lidah Mertua - menteri-pertanian_20181012_142137.jpg
Lagi-Lagi Pacu Ekspor, Kementan Dorong Budidaya Tanaman Hias Bambu Suji dan Lidah Mertua
Lagi-Lagi Pacu Ekspor, Kementan Dorong Budidaya Tanaman Hias Bambu Suji dan Lidah Mertua - menteri-pertanian_20181012_142243.jpg
Lagi-Lagi Pacu Ekspor, Kementan Dorong Budidaya Tanaman Hias Bambu Suji dan Lidah Mertua
Lagi-Lagi Pacu Ekspor, Kementan Dorong Budidaya Tanaman Hias Bambu Suji dan Lidah Mertua - menteri-pertanian_20181012_142311.jpg
Lagi-Lagi Pacu Ekspor, Kementan Dorong Budidaya Tanaman Hias Bambu Suji dan Lidah Mertua
Lagi-Lagi Pacu Ekspor, Kementan Dorong Budidaya Tanaman Hias Bambu Suji dan Lidah Mertua - menteri-pertanian_20181012_142406.jpg
Lagi-Lagi Pacu Ekspor, Kementan Dorong Budidaya Tanaman Hias Bambu Suji dan Lidah Mertua

TRIBUN-TIMUR.COM - Kementerian Pertanian (Kementan) benar-benar bekerja keras dalam memperkuat perekonomian nasional melalui surplusnya neraca perdagangan. Karenanya, langkah nyata yang dilakukan yakni memacu peningkatan volume ekspor.

“Komoditas pertanian yang bernilai ekonomi tinggi atau ekspor sangat banyak. Sesuai arahan Menteri Pertanian untuk meraup dollar dari sektor pertanian, kami lirik pengembangan budidaya tanaman hias, bunga Bambu Suji dan Lidah Mertua yang permintaan ekspornya sangat tinggi,” demikian diungkapkan Direktur Jenderal Hortikuktura Kementan, Suwandi saat mengunjungi budidaya dan industri tanaman hias CV. Asia Prima di Desa Sukajaya, Kecamatan Salabintana, Sukabumi, Jumat (12/10).

Suwandi mengungkapkan untuk meningkatkan volume ekspor tanaman hias Bambu Suji dan Lidah Mertua, Kementan akan mendorong pengembangan budidaya melalui pola kemitraan. Petani binaan akan diperluas dan kelembagaan petani pun diperkuat, sehingga budidayanya berskala korporasi.

“Ke depan, Kementan akan mendorong pengembangan budidaya Bambu Suji dan Lidah Mertua melalui pola kemitraan. Peluang budidayanya besar dan dilakukan petani. Jadi kita bina petaninya dan petani binaan diperluas,” jelasnya.

“Ini bisa dijadikan pendapatan sampingan bagi petani yang mata pencaharian utamanya menanam padi atau sayuran. Peluangnya usahanya sangat besar, budidadanya bisa pakai pekarangan rumah,” imbuhnya.

Eksportir tanaman hias sekaligus pemilik CV. Asia Prima, Tarempa Patuo mengatakan pihak memulai ekspor Bambu Suji yang nama latinnya Dracina Sanderiana sejak tahun 1997. Selain Bambu Suji, mengekspor juga tanaman hias lainya berupa Lidah Mertua (Sansevieria Trifasciata).

Budidaya kedua jenis tanaman hias ini, lanjutnya, dilakukan oleh petani, sehingga membangun pola kemitraan dengan ratusan petani. Bambu Suji dirangkai dalam berbagai bentuk, seperti Pagoda, Guci dan Nanas. Harga per rangkai bervariasi yakni Rp 15.000 sampai Rp 150.000.

“Bambu Suji kami ekspor ke Korea, Singapore, Malaysia dan Australia, bahkan Amerika. Dari tahun ke tahun trennya terus meningkat. Kalau Lidah Mertua diekspor ke Korea dan Singapore,” sebut pria yang akrab disapa Tarempa.

Menurutnya, tingginya permintaan ekspor Bambu Suji tersebut karena telah bergesernya pemanfaatan . Dulu, kebutuhannya musiman yakni untuk tahun baru Korea, namun sekarang sudah bergeser sebagai tanaman hias untuk dekorasi di dalam rumah, sehingga permintaanya sangat tinggi.

“Permintaan dari Belanda pun belum bisa dipenuhi. Ini bisnis di sektor pertanian yang sangat menguntungkan dan nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Tarempa.

Halaman
12
Editor: Sakinah Sudin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved