Tari Kajangki Wotu Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Indonesia

Dirjen Kebudayaan, Hilmar Faried yang menyerahkan sertifikat itu kepada Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Musyaffar Syah.

Tari Kajangki Wotu Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Indonesia
HANDOVER
Macoa Bawalipu ke-61, Bau Muh Aras Abdi To Baji Pua Sinri, Oragi Datu Sumardi Noppo To Mecce, Penari Tari Kajangki M Thalib, Kepala Bidang Kebudayaan Disparmudora Luwu Timur, Akbar Bahar dan stafnya Ridwan Arsyad di sela kegiatan penetapan warisan budaya di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (10/10/2018). 

Laporan Wartawan TribunLutim.com, Ivan Ismar

TRIBUNLUTIM.COM, MALILI - Tari Kajangki dari Wotu ditetapkan sebagai Warisan Takbenda Indonesia, Rabu (10/10/2018). Penyerahan sertifikat bertandatangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy diserahkan di Gedung Kesenian Jakarta.

Dirjen Kebudayaan, Hilmar Faried yang menyerahkan sertifikat itu kepada Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Musyaffar Syah.

Macoa Bawalipu ke-61, Bau Muh Aras Abdi To Baji Pua Sinri sangat mengapresiasi atas diakuinya Tari Kajangki dari Wotu sebagai Warisan Takbenda Indonesia.

"Dan saya mengucapkan terima kasih kepasa Pemkab Luwu Timur yang begitu perhatian teehada budaya khususnya budaya adat Wotu," kata Macoa kepada TribunLutim.com, Kamis (11/10/2018).

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparmudora) Luwu Timur, Akbar Bahar mengatakan Tari Kajangki diusulkan diawal Februari dan ditetapkan di Agustus 2018."Jadi proses verifikasi memakan waktu kurang lebih 6 bulan," kata Akbar.

Tari Kajangki menjadi salah satu dari 225 warisan budaya tak benda Indonesia. Akbar menambahkan, prosesnya diawali dengan permintaan usulan warisan budaya tak benda oleh Kemendikbud ke pemerintah provinsi atau gubernur se Indonesia.

Atas dasar surat menteri itu, Gubernur Sulsel melanjutkan permintaan tersebut ke 24 bupati/walikota se Sulsel.

Atas disposisi bupati kata Akbar, dinas menindaklanjuti dengan mengusulkan Tari Kajangki dan Tari Sumajo untuk ditetapkan sebagai warisan budaya.

Namun dalam tahapannya, Tari Sumajo tidak cukup referensi sesuai dengan persyaratan yang diminta Kemendikbud berbeda dengan Tari Kajangki.

Proses seleksi dan verifikasi ini dilakukan oleh para pakar dan ahli yang ditunjuk oleh kementerian, serta perwakilan pemprov se indonesia.

"Kalau di Sulsel 24 kabupaten kota yang mengusul, tetapi yang berhasil ditetapkan hanya 10 kabupaten salah satunya Tari Kajangki dari Luwu Timur," tutur Akbar.

Hadir dalam penerimaan itu, Macoa Bawalipu ke-61, Bau Muh Aras Abdi To Baji Pua Sinri, Oragi Datu Sumardi Noppo To Mecce, Penari Tari Kajangki M Thalib, Kepala Bidang Kebudayaan Disparmudora Luwu Timur, Akbar Bahar dan stafnya Ridwan Arsyad.

Anreguru Olitau, Wahidin Wahid mengatakan Kajangki adalah tarian yang disakralkan."Tarian biasa ditampilkan sebagai bentuk syukur, jemput tamu agung, dan menghibur para pejuang perang saat itu," katanya.

Penulis: Ivan Ismar
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved