CITIZEN REPORTER

Hari Kedua Rakernas LDII, Prabowo Sampaikan Pembekalan

Sebelumnya, di hari pertama Rakernas LDII, Presiden Joko Widodo menyampaikan pembekalan kepada peserta

Hari Kedua Rakernas LDII, Prabowo Sampaikan Pembekalan
CITIZEN REPORTER
Hari kedua Rakernas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Prabowo Subianto memberikan pembekalan kepada peserta Rakernas LDII. 

Citizen Reporter, Ilmaddin Husain Wakil Sekretaris LDII Sulsel Melaporkan dari Jakarta

 JAKARTA – Di hari kedua Rakernas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Prabowo Subianto memberikan pembekalan kepada peserta Rakernas LDII. Dalam kesempatan itu, Ketua Umum DPP LDII Prof Dr KH Abdullah Syam MSc memaparkan fokus kegiatan LDII, yang sekaligus menjadi aspirasi warga LDII untuk dijadikan program pembangunan para capres.

 “LDII terdapat di 34 provinsi dan 514 DPD kabupaten/kota. Jumlah pesantren kami sejumlah DPD kabupaten/kota. Para dai kami berdakwah hingga ke Australia, Asia, Eropa, hingga Kongo,” ujar Abdullah Syam saat menyampaikan sambutan di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Sebelumnya, di hari pertama Rakernas LDII, Presiden Joko Widodo menyampaikan pembekalan kepada peserta. Turut hadir dalam Rakernas, Ketua DPW LDII Sulawesi Selatan Drs HM Hidayat Nahwi Rasul MSi, dewan penasihat, dewan pakar DPP LDII Prof Dr Haryanto MPd, Ketua DPD LDII Kota Makassar Drs Renreng Tjolli MAg, para Ketua DPD LDII se-Sulawesi Selatan, Kepala SMA Budi Utomo Makassar Dede Nurrohim SPd, dan pakar pendidik Dr Triyanto MPd.

 Ia berharap para peserta yang berjumlah 1.500 orang ini bisa mendengar pemaparan Prabowo, mengenai tantangan yang dihadapi bangsa sekaligus solusi. Dalam pemaparannya, Prabowo menukil buku yang ia tulis Paradoks Indonesia: Negara Kaya Raya, Tetapi Masih Banyak Rakyat Hidup Miskin. Ia menyebut kekayaan alam tak bisa menyejahterakan rakyat, karena elit politik lebih mementingkan kepentingannya sendiri, di atas kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan rakyat.

 “Seluruh mineral yang ada untuk mendukung Indonesia sebagai negara industri terdepan, namun semua bahan-bahan itu justru diekspor. Orang-orang hebat di Indonesia tak dimanfaatkan kemampuannya sehingga negara ini rugi. Kita terus hidup dari utang dan elit politik menyatakan hal itu biasa,” ujar Prabowo.

 Menurut Prabowo, elit politik adalah siapa saja yang menjadi pimpinan, termasuk dirinya. Prabowo menyatakan, dirinya juga pernah menjadi bagian yang negara ini ketika menerapkan ekonomi neoliberal. Namun dampak buruk dari ekonomi neoliberal menyadarkannya, bahwa kekayaan yang dimiliki oleh segelintir orang tak akan menetes kepada orang lain – sebagaimana keyakinan penganut neoliberal.

 Neoliberal sangat menarik bagi negara kaya, namun menurutnya, membuat kesenjangan kesejahteraan antara yang miskin dan kaya. “Dolar naik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000, artinya kita rugi Rp5.000. Kerja keras upah tetap namun nilainya berkurang. Artinya kita makin miskin. Inilah akibat dari neoliberalisme. Negara pun hidup dari utang,” ujar Prabowo.

 Menurut Prabowo, kini negara-negar maju seperti AS justru menolak neoliberalisme. Setelah kalah dengan ekonomi Tiongkok, AS tak mengakui lagi pasar bebas.

Ia menyontohkan Amerika yang bersemboyan America Great Again! Yang memproteksi sumberdaya alam dan penyediaan lapangan kerja untuk rakyat AS.

Halaman
123
Penulis: CitizenReporter
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved