Gempa Bumi Jawa Timur

Gempa Bumi Hari Ini 6,4 SR Guncang Situbondo - Foto-foto Kerusakan Usai Guncangan Hebat di Jatim

Gempa Bumi Hari Ini 6,4 SR Guncang Situbondo - Foto-foto Kerusakan Usai Guncangan Hebat di Jatim

Gempa Bumi Hari Ini 6,4 SR Guncang Situbondo - Foto-foto Kerusakan Usai Guncangan Hebat di Jatim
Gempa Bumi Hari Ini 6,4 SR Guncang Situbondo - Foto-foto Kerusakan Usai Guncangan Hebat di Jatim 

Kemudian aktifitas sesar Palu Koro memicu sesar normal yang berada di pull apart basin/lembah termasuk di teluk dan lembah Palu.

 

Sesar Palu-Koro selain sebagai strike slip yang memiliki gerakan mendatar juga merupakan transtension yang memiliki komponen realizing band di bagian tengah sesar yang dapat bergerak turun dan naik. (Gambar 2. b-c)

Gerakan tersebut selanjutnya memicu longsor bawah laut. Teluk Palu yang diduga kuat meng-generate tsunami baru-baru ini.

Termasuk aktifitas liquefaction di Patobo, pasir dan lempung jenuh air yang merupakan endapan kuarter (molasses deposite) berada di atas segmen-segmen sesar.

Sesar Palu Koro yang memiliki sifat geraknya mengiri
Sesar Palu Koro yang memiliki sifat geraknya mengiri (handover)

Nah, ketika dasar endapan sedimen bergerak, maka bagian atasnya kehilangan kekuatan dan kekakuan (loses strength and stiffnesss) sehingga dengan mudah mengalami likuifaksi. (Gambar 2. b)

Kondisi morfologi wilayah, dimana ujung sesar bersentuhan langsung dengan lautan membentuk sebuah teluk, tentu sangat memungkinkan gerakan naik dan turun di bagian pull apart basin sesar sehingga dapat memicu terjadinya tsunami.

Hal inilah sebagai bagian pengecualian bahwa sesar mendatar tidak lazim berpotensi menghasilkan tsunami. Namun demikian efek sebaran wilayah jelajah tsunaminya kemungkinan tidak seluas jika dibandingkan dengan kejadian pada wilayah zona subduksi dengan perairan terbuka.

 

Baca: Login Sscn.bkn.go.id Segera Tutup: Ini Lokasi Tes CPNS 2018 di 33 Provinsi, Awas Telat Daftar!

Baca: Sang Istri Meninggal Dunia, Indro Warkop Pengen Satu Liang Lahat dengan Nita Octobijanthy

Misalnya wilayah barat Sumatera dan wilayah timur Jawa yang berhubungan langsung dengan Samudera/Lempeng Hindia (Gempa Aceh tahun 2004) dan Samudera/Lempeng Pasifik (Gempa Fukushima, Jepang tahun 2011).

Sejarah Gempa Palu

Kejadian gempa yang memicu tsunami Palu-Donggala tersebut sebenarnya telah memiliki dokumentasi sebelumnya seperti publikasi terbitan jurnal Natural Hazard (Nederland 1997) dan Bulletin of the Seismological Society of America (2000).

Kedua jurnal tersebut telah mendokumentasi bahwa wilayah Donggala-Palu dan sekitar memang memiliki sejarah gempa yang menyebabkan tsunami. Bahkan hal ini telah berlangsung dari tahun 1927-1996 yang sepertinya memiliki sebuah periode ulang.

Terbaru Gempa Bumi Hari Ini 6,3 SR Guncang Sumba Timur NTT, Keterangan BMKG Soal Potensi Tsunami
Terbaru Gempa Bumi Hari Ini 6,3 SR Guncang Sumba Timur NTT, Keterangan BMKG Soal Potensi Tsunami ()

Tercatat riwayat gempa di daerah tersebut: 1 Desember 1927 terjadi gempa berkuatan 6,3 SR. Lalu 19 Mei 1939 terjadi lagi gempa dengan magnitude 7,6. Berulang lagi pada 14 Agustus 1968 dengan kekuatan 7,4 SR. Gempa lagi pada 1 Januari 1996 dengan kekuatan 7,7 SR.

Besarnya magnitude gempa hampir sama dengan yang terjadi saat ini yang menandakan bahwa pemicu gempa sama, tidak hanya terjadi di darat tetapi juga terjadi di laut. Itu menandakan semua segmen sesar di sekitar sesar Palu Koro dapat bergerak.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa wilayah Donggala-Palu dan sekitarnya adalah wilayah potensi gempa serta dapat menyebabkan tsunami. Hal ini tentunya tergantung pada besar
magnitude dan posisi episentrum.

Sesar Palu Koro merupakan sesar aktif yang dapat bergerak kapan saja. Dan yang jelas dapat mempengaruhi segmen-segman sesar di sekitarnya yang berpotensi menyebabkan gempa serta tsunami.

 

Kejadian ini tentu yang kesekian kalinya menjadi pelajaran bagi kita semua dan mendorong kesiapan pemerintah dan masyarakat untuk menghadapi segala bentuk konsekuensi hidup di daerah yang rawan gempa bumi.

Pemerintah harus mampu menyiapkan infrastruktur sistem peringatan dini, sistem tanggap darurat yang cepat, mendorong edukasi gempa, tsunami maupun bencana lainnya kepada masyarakat luas untuk mengurangi dampak kerugian atau sebagai bentuk tindakan mitigasi.

Yang tak kalah pentingnya adalah perencanan pembangunan infrastruktur/penataan ruang tidak menjadikan kajian gejala alam sebagai pertimbangan pelengkap semata. (*)

* Dosen Teknik Geologi Unhas
** Ketua Pengda Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sulawesi Selatan, Barat dan Tengah

Subcribe channel youtube dan follow instagram kami untuk mendapat update berita dan informasi terbaru: 

Editor: Rasni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved