Sosialiasi Bawaslu di Bulukumba, Saiful Jihad: Anggota DPRD Boleh Reses, Tapi Jangan Kampanye

Termasuk kepada para penguasa, kata Saiful Jihad, agar tidak menggunakan fasilitas negara untuk berkampanye.

Sosialiasi Bawaslu di Bulukumba, Saiful Jihad: Anggota DPRD Boleh Reses, Tapi Jangan Kampanye
firki/tribunbulukumba.com
Komisioner Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Saiful Jihad, menjadi salahsatu pemateri dalam sosialisasi pengawasan partisipatif, di Hotel Agri, Jl R Suprapto, Kelurahan Tanah Kongkong, Kecamatan Ujung Bulu, Bulukumba, Sulsel, Rabu (10/10/2018). 

Laporan Wartawan TribunBulukumba.com, Firki Arisandi

TRIBUNBULUKUMBA.COM, UJUNG BULU - Komisioner Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Saiful Jihad, menjadi salahsatu pemateri dalam sosialisasi pengawasan partisipatif, di Hotel Agri, Jl R Suprapto, Kelurahan Tanah Kongkong, Kecamatan Ujung Bulu, Bulukumba, Sulsel, Rabu (10/10/2018).

Pria kelahiran Pinrang itu, meminta Organisasi Masyarakat (Ormas) dan media massa turut melakukan pengawasan, untuk menciptakan pilkada yang jujur dan berdaulat.

Dalam menciptakan pilkada yang damai, menurut dosen di Universitas Hasanuddin (Unhas) ini, masyarakat juga harus sadar, dan membantu melakukan pengawasan terhadap hal-hal yang terindikasi melanggar.

Termasuk kepada para penguasa, kata Saiful Jihad, agar tidak menggunakan fasilitas negara untuk berkampanye.

"Termasuk bupati tidak boleh mengunakan kekuasaanya untuk memenangkan keluarganya, DPRD juga begitu, boleh reses tapi jangan berkampanye," pinta Saiful Jihad.

Terlepas dari semua itu, Bawaslu juga harus mengawal penyelenggaraan pemilu 2019 dari hal-hal terkecil, seperti dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) misalnya.

Pasalnya, terkadang dalam prosesnya, banyak masyarakat yang seharusnya tidak dimasukkan lagi dalam DPT namun tetap masuk, sehingga rawan disusupi kecurangan.

Saiful Jihad memberikan pemakanaan tersendiri dalam hal tersebut, yakni dengan istilah, DPT menghidupkan orang mati.

Untuk menghilangkan segala hal tersebut, dibutuhkan kesadaran masyarakat, termasuk menghidupkan kembali adat, budaya dan kultur.

Hal ini menjadi penting, kata Saiful, karena dimasa lalu, hal tersebut digunakan untuk menjaga nilai-nilai norma, kejujuran, dan saling menghargai antar sesama.

"Di Kajang, orang-orang membakar linggis untuk membuktikan siapa berbohong atau tidak. Dan ini merupakan cara masyarakat adat untuk menyelesaikan masalah. Dan ini memberikan efek yang baik, orang jadi takut berbohong," jelasnya.

Penulis: Firki Arisandi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved