KPU Bulukumba Minta Izin Ammatoa Pakai Kamera di Tana Toa

Namun, sebelum melaksanakan kegiatan tersebut, KPU Bulukumba terlebih dahulu mappatabe (meminta izin) ke Ammatoa, sehari sebelumnya.

KPU Bulukumba Minta Izin Ammatoa Pakai Kamera di Tana Toa
firki/tribunbulukumba.com
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bulukumba, telah melaksanakan sosialisasi forum sadar pemilu di Desa Bonto Baji dan Desa Tana Toa, di Kecamatan Kajang, Rabu (10/10/2018) siang. 

Laporan Wartawan TribunBulukumba.com, Firki Arisandi

TRIBUNBULUKUMBA.COM, KAJANG - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bulukumba, telah melaksanakan sosialisasi forum sadar pemilu di Desa Bonto Baji dan Desa Tana Toa, di Kecamatan Kajang, Rabu (10/10/2018) siang.

Namun, sebelum melaksanakan kegiatan tersebut, KPU Bulukumba terlebih dahulu mappatabe (meminta izin) ke Ammatoa, sehari sebelumnya.

Ammatoa merupakan pimpinan tertinggi di wilayah adat Kecamatan Kajang, yang bermukim di Desa Tana Toa, atau sekitar 53 kilometer tenggara Kota Bulukumba.

Saat kunjungan ke Ammatoa, KPU datang bersama jajarannya, yakni PPK dan PPS se-Kecamatan Kajang. Kunjungan tersebut sekaligus dijadikan ajang silaturahmi dengan masyarakat adat.

"Dalam kesempatan itu, kami juga meminta dukungan kepada Ammatoa dalam menyukseskan penyelengaraan pemilu 2019 di Kecamatan Kajang secara khusus dan Kabupaten Bulukumba secara umum," tutur Anggota KPU Bululukumba, Syamsul.

Tak hanya itu, pada kesempatan tersebut, KPU Bulukumba meminta izin kepada sang pemangku adat untuk menggunakan kamera ponsel di kawasan adat, pada pemilu 17 April 2019 mendatang.

Penggunaan kamera tersebut untuk memotret hasil penghitungan suara di tujuh TPS yang berada dalam kawasan Desa Tana Toa.

Seperti diketahui, di daerah adat Kajang, masyarakat tak sebebas di wilayah lainnya. Di wilayah ini terikat aturan adat, termasuk larangan mengabadikan gambar disembarangan tempat.

Di desa adat ini, masyarakat umum juga tak dapat mengenakan sendal dan juga menggunakan pakaian sembarangan. Pakaian yang dikenakan haruslah berwarna hitam.

Syamsul menceritakan, bahwa permintaan izin menggunakan ponsel di Desa Tana Toa, mendapat respon baik dari pemangku adat.

"Alhamdulillah, kedatangan kami disambut baik oleh Ammatoa. Amma mengizinkan jajaran kami memotret hasil penghitungan suara di tujuh TPS yang berada dalam kawasan adat Tana Toa," tutur pria kelahiran Herlang ini.

Namun, penggunaan kamera ponsel tersebut hanya diizinkan untuk memotret hasil perhitungan suara saja, tidak boleh memotret yang lainnya.

Penulis: Firki Arisandi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved