Jadi Pemateri Di Acara Bawaslu Bulukumba, Ini yang Dibahas Andi Mahrus Andis

Mantan asisten dan staf ahli bupati Bulukumba itu dipercayakan membawa materi tentang cara mendorong partisipatif masyarakat

Jadi Pemateri Di Acara Bawaslu Bulukumba, Ini yang Dibahas Andi Mahrus Andis
Firki/TribunBulukumba.com
Tokoh masyarakat (Tomas) Bulukumba, Andi Mahrus Andis, menjadi salahsatu pemateri dalam sosialisasi pengawasan partisipatif Bawaslu Bulukumba, di Hotel Agri, Jl R Suprapto, Rabu (10/10/2018). 

Laporan Wartawan TribunBulukumba.com, Firki Arisandi

TRIBUNBULUKUMBA.COM, UJUNG BULU - Tokoh masyarakat (Tomas) Bulukumba, Andi Mahrus Andis, menjadi salahsatu pemateri dalam sosialisasi pengawasan partisipatif Bawaslu Bulukumba, di Hotel Agri, Jl R Suprapto, Rabu (10/10/2018).

Mantan asisten dan staf ahli bupati Bulukumba itu dipercayakan membawa materi tentang cara mendorong partisipatif masyarakat dalam melakukan pengawasan tahapan pemilu 2019.

Diisi materinya, Mahrus hanya menjelaskan tentang Khalifah. Menurutnya, erat kaitannya tentang kenapa manusia dijadikan khalifah dengan mendorong partisipasi pengawasan ini.

Materinya kemudian diawali dengan menjelaskan makna khalifah itu sendiri.

"Khalifah itu pemimpin diatas muka bumi, menjadi wakil Tuhan. Namun, apakah semua manusia itu khalifah?, tanya Mahrus di depan tetamu undangan.

Mahrus kemudian lanjut menjelaskan, jika manusia ingin disebut khalifah, maka harus menampakkan fungsi dan peran di muka bumi sebagai wakil Tuhan, sebagaimana makna khalifah itu sendiri.

Menjadi wakil Tuhan, kata dia, berarti harus mencontohkan atau menerapkan idealisme Tuhan.

Idealisme Tuhan itu, jelas Mahrus, diantaranya maha adil, sehingga sebagai khalifah juga harus adil, tuhan adalah zat yang maha baik, berarti khalifah juga harus menunjukkan kebaikan.

"Sehingga mengawasi tahapan pemilu yang bersih, menjadi tanggungjawab moral kebangsaan dan agama," katanya.

Dan sebagai umat muslim, tambah Mahrus, Rasulullah Muhammad SAW juga telah menjelaskan hal ini dalam salahsatu hadisnya diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Said Alkhudry.

“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka tolaklah dengan hatinya, dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman," arti hadis tersebut yang dijelaskan Mahrus. (*)

Penulis: Firki Arisandi
Editor: Nurul Adha Islamiah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved