Gempa Bumi Palu Donggala

Cerita Pengungsi Korban Gempa dan Tsunami Donggala, Lari ke Gunung dan Cuma Makan Pisang

Saat itu dia sedang asyik menonton TV, sementara istrinya sibuk di dapur dan anak-anaknya berada di dalam kamar.

Cerita Pengungsi Korban Gempa dan Tsunami Donggala, Lari ke Gunung dan Cuma Makan Pisang
Munjiyah/Tribunpangkep.com
Sahlan (55) warga Kampung Wani, Kabupaten Donggala, Sulteng masih mengingat benar peristiwa yang merenggut rumah dan seluruh isinya, Senin (9/10/2019). 

TRIBUNPANGKEP.COM, PANGKAJENE-- Sahlan (55) warga Kampung Wani, Kabupaten Donggala, Sulteng masih mengingat benar peristiwa yang merenggut rumah dan seluruh isinya, Jumat (28/9/2018) lalu.

Saat itu dia sedang asyik menonton TV, sementara istrinya sibuk di dapur dan anak-anaknya berada di dalam kamar.

Tiba-tiba tepat pukul 17.35 Wita terjadi gempa pertama, mereka kemudian sadar dan berusaha saling berteriak hingga gempa susulan terjadi yang kedua kalinya.

Gempa semakin terasa hebat, Sahlan kemudian bersandar di dinding mengikuti gerak irama gempa, hingga dia dan keluarganya berhamburan keluar rumah ketika terjadi gempa yang ketiga kalinya.

Di luar rumah, dia menyaksikan rumahnya langsung rubuh terbelah dan jatuh ke tanah kemudian disusul tsunami pas adzan magrib berkumandang.

"Saya dan keluarga lari saja sejauh mungkin sampai kami ke gunung yang bernama gunung Lanta'. Kami jalan sejauh 10 km dan terus berjalan ditengah hantaman gempa dan tsunami," ujarnya saat ditemui di Majennang.

Selama di gunung, Sahlan dan keluarganya hanya makan pisang dan air seadanya. Itupun berkat bantuan para petani yang berkebun di gunung.

"Kita enam hari di gunung pisang saja pengganti makanan pokok dan tidak pernah ada bantuan, hingga sampai kami turun di posko induk baru diberi makan mie instan," ungkapnya, Selasa (9/10/2018).

Sahlan lalu mencari tahu keluarganya di semua wilayah, termasuk di Kabupaten Pangkep.

Dia akhirnya dijemput kerabat dan menggunakan kapal Tonasa Lines menuju kabupaten Pangkep.

"Untuk sementara saya tinggal disini dulu sampai Palu benar-benar sudah normal. Saya ingin menghilangkan trauma dan mengembalikan semangat hidup saya dan keluarga," jelasnya. (*)

Penulis: Munjiyah Dirga Ghazali
Editor: Nurul Adha Islamiah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved