Cari Destinasi Baru? Coba Air Terjun Tanpa Nama di Hulu Jeneberang

disarankan mengunjungi air terjun pada musim kemarau. Sebab jika musim hujan memiliki risiko besar saat melintasi atau menyeberangi sungai

Cari Destinasi Baru? Coba Air Terjun Tanpa Nama di Hulu Jeneberang
air terjun tanpa nama hulu di sungai jeneberang, kabupaten gowa 

LOKASINYA berada di hulu Sungai Jeneberang dan persis dibawah bendungan yang rusak dihantam air bah Sungai Jeneberang. Namun, imbasnya membentuk air terjun yang cantik tersembunyi di bawah bendungan tersebut.

Air terjun ini terbilang destinasi baru sehingga belum banyak diketahui orang. Tak heran jika air terjun ini belum memiliki nama tetap.

traveler air terjun sungai jeneberang
traveler air terjun sungai jeneberang (Wa Ode Nurmin/Tribungowa.com)

Hanya ada beberapa komunitas pencinta alam lokal yang sudah menjejakkan kaki dan menikmati destinasi air terjun ini.

Untuk menjangkau air terjun tanpa nama itu bisa melalui dua jalur. Pengunjung bisa melalui Malino, melewati air terjun Takapala ke Jembatan Merah Punggawa D' Emba.

Jalur kedua, pengunjung melalui Desa Majannang, Kecamatan Parigi, yang juga menghubungkan jembatan merah.

pengunjung air terjun tanpa nama di sungai jeneberang
pengunjung air terjun tanpa nama di sungai jeneberang ()

Jembatan merah adalah batas jangkauan dalam berkendara menuju lokasi air terjun baik itu di jembatan merah yang lama atau yang baru.

Di jembatan tersebut, kendaraan pengunjung harus diparkir kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju air terjun. Waktu tempuh berjalan kaki hanya menalan waktu satu jam.

Sejam perjalanan pun seolah tak terasa dengan suguhan pemandangan indah seperti tebing-tebing tinggi di kiri kanan sungai.

Melalui tepian Sungai Jeneberang yang berkelok-kelok menuju air terjun tersebut akan memberi pengalaman berkesan di alam. Langkah kaki akan mendapati bebatuan licin yang harus dilintasi atau menyeberangi sungai dengan kehati-hatian.

air terjun tanpa bertebing di hulu sungai jeneberang
air terjun tanpa bertebing di hulu sungai jeneberang ()

Sebelumnya, sejumlah anggota KPA melakukan perjalanan bersama mengunjungi air terjun tersebut. Mereka yaitu Artspala Tona-Tonasa Gowa, Jelajah Nusantara, Gispala Makassar, RPA Makassar, Petualang MDPL, Panranga Gowa, dan beberapa pengunjung dari Sinjai, Gowa, Makassar, dan Jogyakarta.

Waktu terbaik

Anggota Kelompok Pencinta Alam (KPA) Jelajah Nusantara, Bang Galang, menyarankan waktu terbaik mengunjungi air terjun tanpa nama di hulu Sungai Jeneberang itu adalah pada pagi atau siang hari.

"Agar bisa memiliki banyak menikmati keelokan air terjun sembari bisa melakukan makan siang atau menyeruput kopi panas di bawah air terjun," katanya, belum lama ini.

Selain itu, disarankan mengunjungi air terjun pada musim kemarau. Sebab jika musim hujan memiliki risiko besar saat melintasi atau menyeberangi sungai. Risiko tersebut bisa datang dari arus sungai yang deras atau luapan air yang tak disangka-sangka muncul.

Olehnya, disarankan orang yang belum pernah kesana sebaiknya ditemani dan dipandu oleh warga yang berpengalaman mengunjungi air terjun tanpa nama tersebut.
“Apalagi banyak longsoran tebing di sepanjang sungai yang dilewati. Tingginya diperkirakan 15 sampai 20 meter," tambahnya.(*)

Editor: Ridwan Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved