Ekonom Prediksi Ekonomi Indonesia 5,2 Persen di 2019, Pengetatan Impor Tak Pegaruhi Kurs Rupiah

Hadir Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira yang memaparkan perkiraan perekonomian Indonesia di 2019 mendatang.

Ekonom Prediksi Ekonomi Indonesia 5,2 Persen di 2019, Pengetatan Impor Tak Pegaruhi Kurs Rupiah
FADHLY
Bank BTPN menggelar Entrepreneur Networking Forum dengan tema "Outlook Ekonomi 2019: Peluang UMKM di Era Digital dan Tantangan di Tahun Politik" di Four Points by Sheraton Jl Andi Djemma Makassar, Kamis (20/9/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Bank BTPN menggelar Entrepreneur Networking Forum dengan tema "Outlook Ekonomi 2019: Peluang UMKM di Era Digital dan Tantangan di Tahun Politik" di Four Points by Sheraton Jl Andi Djemma Makassar, Kamis (20/9/2018).

Hadir Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira yang memaparkan perkiraan perekonomian Indonesia di 2019 mendatang.

Menurutnya, pertumbuhan perekonomian Indonesia akan tumbuh sekitar 5,2 persen.

Sektor logistik, transportasi, konstruksi, dan perdagangan akan menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional.

“Permintaan di negara maju sebenarnya cukup solid, hanya saja pelaku usaha diminta untuk mencermati efek perang dagang dan fluktuasi kurs rupiah akibat perubahan dinamika global,” kata lelaki berkacamata itu.

Beberapa langkah dilakukan pemerintah Indonesia, salah satunya dengan menekan valas lewat pengetatan impor memang tidak salah. Pasalnya semakin besar nilai impor, semakin besar kebutuhan akan valas.

Hanya saja menjadi kurang efektif lantaran jajaran pos tarif yang diperketat lebih mengarah kepada barang-barang konsumsi. Di mana jenis barang ini hanya menyumbang di kisaran 9 persen terhadap total nilai impor Indonesia.

Pada Januari-Agustus 2018 porsi impor untuk barang konsumsi hanya 9,30 persen dari total nilai impor keseluruhan. Sementara itu, komposisi barang modal dan bahan baku atau penolong mencapai 90,70 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), total nilai impor di sepanjang Januari—Agustus berada di angka US$ 124,19 miliar. Kebutuhan valas untuk mengimpor barang konsumsi sendiri hanya US$ 11,45 miliar.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fadhly Ali
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved