Kadin Sarankan Pemerintah Cabut Subsidi Solar

Defisit ini juga lebih besar dibandingkan dengan kuartal I-2018 sebesar 2,2% atau sekitar US$ 5,5 miliar.

Kadin Sarankan Pemerintah Cabut Subsidi Solar
HANDOVER
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Bank Indonesia (BI) mencatat, defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada kuartal II-2018 sebesar US$ 8 miliar atau 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Angka tersebut melebar dibandingkan dengan kuartal II-2017 sebesar 1,96%.

Defisit ini juga lebih besar dibandingkan dengan kuartal I-2018 sebesar 2,2% atau sekitar US$ 5,5 miliar.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani berpandangan bahwa pemerintah perlu mencabut subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk menekan current account deficit.

"Menurut saya, pada ujungnya subsidi BBM itu harus dilepas karena itu salah satu yang berkontribusi terbesar (ke CAD)," kata Rosan dilansir Tribunnews.

Rosan menyebut, kenaikkan harga Solar juga akan mampu menahan konsumsi BBM sehingga menekan impor minyak mentah yang selama ini berkontribusi besar dalam CAD.

Pemerintah tak perlu takut ambil kebijakan yang tidak populer demi perekonomian yang stabil. Namun, tetap perlu membuat kajian terkait dampak dari keputusan tersebut.

Sebab, kata Rosan, kenaikan Solar akan berdampak pada inflasi yang tinggi dan ujung-ujungnya menekan pengeluaran konsumsi rumah tangga.

"Ini yang harus disikapinya seperti apa, karena akan pengaruhi daya beli, tapi menurut saya tetap harus dilepas," jelas dia. (Aly)

Kadin Sulsel Menolak

Ketua Kadin Sulsel, Zulkarnaen Arief yang dihubungi, Minggu (15/9/2018) menolak saran dari ketua umumnya.

"Tidak populis, ini membuat masyarakat khususnya pelaku usaha menjerit. Belum selesai penguatan dolar yang berimbas naiknya beberapa harga barang impor, nah sekarang mau hentikan subsidi Solar," ujarnya.

Menurutnya, ini sangat memberatkan masyarakat. "Pemerintah harus mencari alternatif lain. Jangan sampai memberatkan masyarakat. Kasihan mereka," ujarnya. (*)

Penulis: Muhammad Fadly Ali
Editor: Mahyuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help