Tugu Pahlawan Terabaikan, Ini Kata Sejarahwan UNM

kawasan itu kini jadi areal penumpukan kardus pemulung. Ada beberapa botol minuman keras di tangga undakannya.

Tugu Pahlawan Terabaikan, Ini Kata Sejarahwan UNM
dok_tribun-timur/sanovra_jr
Kondisi Tugu Pahlawan Indonesia di Jl Ujungpandang, Makassar, Minggu (9/9/2018) sore. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Fahrizal Syam

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sebuah tugu pahlawan yang merupakan simbol perjuangan para pejuang puluhan tahun silam di Makassar kian tak terurus.

Tugu Pahlawan Indonesia tersebut dibangun di atas lokasi yang menjadi lokasi pendaratan pasukan TNI, usai pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 1949.

Monumen itu dibangun 1951, untuk mengenang ‘pertempuran antara TNI dengan tentara KNIL/NICA” dua hari ( 27-29 Desember 1949), atau 69 tahun silam.

Dari pantauan Tribun, kawasan itu kini jadi areal penumpukan kardus pemulung. Ada beberapa botol minuman keras di tangga undakannya.

Monumen setinggi 10 meter itu, nyaris tertutupi kedai “liar” permanen, di sisi timurnya. Warung tenda sea food, yang saban hari dikenakan “pajak” oleh instansi pemerintah kota, juga kian memperburuk posisi monumen.

Sejarahwan Makassar'>Universitas Negeri Makassar, Rifal menyesalkan terabaikannya tugu pahlawan tersebut. Ia mengatakan, pembangunan di suatu daerah dapat terus dilakukan, namun tak boleh melupakan peninggalan sejarah.

"Harusnya ini menjadi ikon sejarah di setiap tempat. Tugu tidak dibuat semata-mta begitu saja tetapi ada makna yang ingin disampaikan. Kenapa tugu itu dibangun di dekat jalan, itu maknnya ingin disampaikan ke masyarakat bahwa walaupun pembangunan tetap jalan tapi kita tak bisa lupakan sejrahnya di situ," kata Rifal.

Menurut Rifal, melupakan atau bahkan menghilangkan tuhu di suatu tempat, sama saja dengan menghilangkan sejarah tempat itu sendiri.

"Terkait tugu di depan Rotterdam itu, jika itu tak diurus atau bahkan dihilangkan, itu sama saja menghilangkan jejak sejarah di tempat itu. Ketika suatu daerah tanpa jejak sejarah, maka kita akan kehilangan sejarah masa lalu yang merupakan sebuah identitas," tuturnya.

Menurutnya, penghilangan tugu atau melupkan tugu itu sama saja menghilangkan sejarah di suatu daerah. Untuk itu ia meminta pemkot, agar memperhatikan tugu tersebut.

"Seharusnya ini dipugar sedemikian rupa, tetap mengikuti perkembangan jaman. Dipugar agar tempat ini bagus dipandang mata. Pembangunan boleh, tapi jangan merusak atau menghilangkan benda sejarah yang ada di situ," kata dia.

"Balai pelestarian cagar budaya harus bereperan di sini sebagai filter untuk mengadvokasi hal ini. Pembangunan tak boleh dihilangkan tapi tetap berdasar asas historis," sambungnya.

Ia meminta, pemerintah atau pihak terkait melibatkan arkeolog dan sejarahwan dalam hal seeprti ini.

"Pemerintah juga perlu berdiskusi dengan arkeolog atau sejarahwan terkait ini. Mungkin kalau mau membangun di situ, itu tidak bisa dihindarkan, tapi harus dipikirkan bagaimana pembangunan tetap jalan tapi tetap harus punya nilai sejarah," pungkasnya. (*)

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Nurul Adha Islamiah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved