Tugu Pahlawan Indonesia di Pantai Losari Terus Tergusur

Dari pantauan Tribun, kawasan itu kini jadi areal penumpukan kardus pemulung. Ada beberapa botol minuman keras di tangga undakannya.

Tugu Pahlawan Indonesia di Pantai Losari Terus Tergusur - tugu-pahlawan_21_makassar_20180910_200811.jpg
dok_tribun-timur/sanovra_jr
Kondisi Tugu Pahlawan Indonesia di Jl Ujungpandang, Makassar, Minggu (9/9/2018) sore.
Tugu Pahlawan Indonesia di Pantai Losari Terus Tergusur - tugu-pahlawan_20180909_205209.jpg
sanovra/tribuntimur.com
Tugu Pahlawan Indonesia di Pantai Losari Terus Tergusur - jl-ujung-pandang-makassar-terlihat-kusam_20150816_214949.jpg
TRIBUN TIMUR/MUH DAVID ARIANTO
Sangat ironis jelang detik-detik perayaan hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 70 tahun. Sebuah tugu Pahlawan Indonesia yang berdiri kokoh didepan Benteng Fort Roterdam. Jl Ujung Pandang Makassar terlihat kusam dan tak terurus. Tugu bersejarah ini terkesan telah dilupakan.

TRIBUN-TIMUR.COM-MAKASSAR, - Sepulang dari Moskow, Uni Soviet, tepatnya tanggal 11 November 1961, Presiden Soekarno, berpidato di Lapangan Ikada, Jakarta. 

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” itulah salah satu kutipan pidato Bung Karno, yang paling dikenang dan jadi rujukan saban peringatan hari Pahlawan. Itu hingga kini.

Inilah peringatan hari Pahlawan dalam skala besar dalam catatan masa awal kemerdekaan.

Lukisan para pahlawan direproduksi dan disebar ke penjuru negeri.

Nama bandara, jalan protokol, mengabadikan nama para pejuang, Serial perangko pahlawan diterbitkan.

Ini instruksi presiden untuk jajaran pemerintah dan institusi militer. Sejak saat itu, peringatan Hari Pahlawan di'rayakan" di seantero negeri.

Namun di pantai barat Makassar, Monumen Pahlawan Indonesia, justru kian tergusur.

“Di Yogya, monumen perjuangan pahlawan dipelihara. Dipagari, dan sejajar dengan Keraton. Tapi di Makassar, Monumen Pahlawan itu jadi area parkir kafe. Tak dipelihara.” kata Dirjen Otonomi Daerah Soni Sumarsono, saat bertandang ke Tribun Timur, malam Minggu (8/9/2018).

Headline_Front_Page_TribunTimur992018
Headline_Front_Page_TribunTimur992018 (dok_tribun-timur)

Soni mengaku “nelongso’ melihat tugu yang dibangun Pemborong Sie Toe Bon tahun 1951 itu, kian tak terurus. “Saya baru lihat, beberapa hari setelah tak lagi menjabat,” kata Soni, yang setengah tahun menjadi Pj Gubernur Sulsel (5 April - 5 September 2018) ini.

Monumen itu dibangun 1951, untuk mengenang ‘pertempuran antara TNI dengan tentara KNIL/NICA” dua hari ( 27-29 Desember 1949), atau 69 tahun silam.

Tahun ini, usia tugu itu, sudah 67 tahun. Tugu itu dibangun dimasa Kolonel Inf Gatot Subroto, menjabat Panglima Teritorium Indonesia Timur.

Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono dan mantan Asisten 1 Sulsel Andi Herry Iskandar prihatin dengan kondisi tugu Pahlawan Indonesia yang terletak di Jl Ujung Pandang, Makassar.
Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono dan mantan Asisten 1 Sulsel Andi Herry Iskandar prihatin dengan kondisi tugu Pahlawan Indonesia yang terletak di Jl Ujung Pandang, Makassar. (Saldi/tribuntimur.com)

Hadir kala itu para pejuang dari Tanah Bugis, Sampara Daeng Lili, Wali Kota Makassar yang masih dibawah Negara Indonesia Timut (NIT).

Sekitar 15 tahun lalu, tepatnya, tanggal 12 September 2003, atau di masa Amiruddin Maula menjabat walikota Makassar, tugu itu sempat direnovasi dan direvitalisasi.

Salah satu tentara pejuang yang ikut pertempuran itu, Mayjen TNI Purn H Andi Mattalatta, mengabadikan catatan mengapa tugu itu harus dipelihara.

Almarhum Mayjen Andi Mattalatta, kala itu, membubuhkan tanda-tangan di prasasti, yang lima tahun terakhir tak bisa terbaca lagi.

Dalam catatan, Tribun, setelah masa Amiruddin Maula, monumen Pahlawan Indonesia itu, kian tak terurus.

Direktur Jenderal (Dirjen) Otonomi Daerah (OTDA) Kemendagri, Soni Sumarsono menyambangi Redaksi Tribun Timur, Sabtu (8/9/2018).
Direktur Jenderal (Dirjen) Otonomi Daerah (OTDA) Kemendagri, Soni Sumarsono menyambangi Redaksi Tribun Timur, Sabtu (8/9/2018). (HASIM)

“Sebelum tujuh belas Agustus, ada pegawai yang datang bersihkan, baru dicet pakai air pakleo (kapur),” kata seorang Daeng, yang setahun terakhir menetap dan hidup di sisi timur monumen, Minggu (9/9) kemarin.

Dari pantauan Tribun, kawasan itu kini jadi areal penumpukan kardus pemulung.
Ada beberapa botol minuman keras di tangga undakannya.

Monumen setinggi 10 meter itu, nyaris tertutupi kedai “liar” permanen, di sisi timurnya. Warung tenda sea food, yang saban hari dikenakan “pajak” oleh instansi pemerintah kota, juga kian memperburuk posisi monumen.

Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono dan mantan Asisten 1 Sulsel Andi Herry Iskandar prihatin dengan kondisi tugu Pahlawan Indonesia yang terletak di Jl Ujung Pandang, Makassar.
Penjabat Gubernur Sulsel Soni Sumarsono dan mantan Asisten 1 Sulsel Andi Herry Iskandar prihatin dengan kondisi tugu Pahlawan Indonesia yang terletak di Jl Ujung Pandang, Makassar. (Saldi/tribuntimur.com)

Baca: Sumarsono Kecewa, Tugu Pahlawan Tak Terurus di Makassar

Di sisi utara, ada tembok tingi kafe Ombak. Konon ini milik anggota DPRD Kota. Area monumen jadi lahan parkir kafe, dan kedai liar.

Di selatan ada markas Polisi Perairan (Polair) Polda Sulsel. Di sebelah barat, yang berhadapan langsung dengan pantai, sudah 5 tahun terakhir jadi “Pelabuhan rakyat ke Pulau Samalona”.

Semoga sebelum Hari Pahlawan, 10 November 2018 nanti, monumen itu “dibebaskan” dan terus dipelihara. (nov/dar)

Penulis: Sanovra Jr
Editor: Thamzil Thahir
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help