Nilai Dolar Naik, Pengusaha Tahu Tempe di Kota Palopo Mulai Cemas

Kecemasan karena bisa saja bahan baku kedelai yang mereka beli dari hasil impor mengalami kenaikan harga.

Nilai Dolar Naik, Pengusaha Tahu Tempe di Kota Palopo Mulai Cemas
Pengusaha tahu dan tempe di Kelurahan Binturu, Kecamatan Wara Selatan, Kota Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai cemas dengan kenaikan nilai dollar di Indonesia. 

Laporan Wartawan TribunPalopo.Com, Hamdan Seoharto.

TRIBUNPALOPO.COM, WARA - Pengusaha tahu dan tempe di Kelurahan Binturu, Kecamatan Wara Selatan, Kota Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai cemas dengan kenaikan nilai dollar di Indonesia.

Kecemasan karena bisa saja bahan baku kedelai yang mereka beli dari hasil impor mengalami kenaikan harga.

Salah satu pengusaha tempe di Palopo, Triyono mengatakan, pihaknya mengambil kedelai impor dari Amerika. Namun pemasoknya ada di Kota Makassar.

"Kami ambil dari dari Makassar. Makassar ambil dari Amirika. Takutnya dengan dollar naik bahan juga ikut naik," katanya.

Ia menambahkan, saat ini kenaikan mata uang dollar belum berdampak dengan usaha yang telah dirintisnya sejak beberapa tahun lalu itu. Harga kedelai masih normal Rp 8.500 per kilo untuk kedelai berkualitas kelas satu. Sementara kedelai berkualitas kelas dua harganya Rp 8.200.

Perharinya Ia mengaku membutuhkan sebanyak 500 kg kedelai untuk dibuat menjadi tempe dan tahu.

"Kami berharap semoga tidak berdampak signifikan. Semoga bahan baku tidak naik dan masyarakat tetap diuntungkan," katanya.

Triyono menjual tahu dengan Rp 5 ribu per enam potong. Sementara untuk tempe ukuran besar dijual Rp 5 ribu per potong, ada juga Rp 4 ribu per potong.

Ketgam :

Pengusaha tahu dan tempe di Kelurahan Binturu, Kecamatan Wara,, Kotaopo, Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai cemas dengan kenaikan nilai dollar di Indonesia.

Penulis: Hamdan Soeharto
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved