Kasus Rabies di Toraja Utara Meningkat, Pariwisata Terancam

Namun, daerah pariwisata ini terancam karena termasuk daerah endemis rabies dengan kasus gigitan anjing terbanyak.

Kasus Rabies di Toraja Utara Meningkat, Pariwisata Terancam
risnawati/tribuntoraja.com
Anjing yang sudah divaksin dan diberi tanda oleh Petugas Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Toraja Utara. 

Jumlah kematian pada manusia karena rabies sejak tahun 2015 terdapat dua korban di Kecamatan Sopai dan Bangkelekila, sedangkan tahun 2016 ada tiga korban yakni di Kecamatan Balusu, Sadan dan Rantepao.

Terdapat 658 gigitan pada tahun 2017, dua korban kematian yakni di Kecamatan Rantepao dan Buntao.

"Rabies memang menakutkan, tetapi rabies dapat dicegah dengan beberapa cara, diantaranya vaksinasi pada hewan penular rabies," ujar Rostiani.

Menurutnya, keterlibatan pemerintah pada kasus rabies di Toraja Utara belum maksimal, terutama ketersediaan dana.

"Pemerintah pusat menghendaki Sulsel harus terbebas rabies tahun 2020, namun tidak memungkinkan mewujudkan itu dimana pemerintah daerah tidak mengambil alih dalam pemberantasan penyakit rabies," ungkapnya.

Rosita mengatakan, Pemkab harus belajar dari kasus rabies di Bali dan demi mencapai tahun 2020 bebas rabies, maka 70 persen dari jumlah Hewan Penular Rabies (HPR) harus dimanajemen dengan baik, terutama pencegahan melalui vaksinasi rabies.

Sedangkan, cakupan capaian vaksinisasi rabies selama ini hanya 21-23 persen, dimana pelaksanaannya hanya sebagian kecil kecamatan, serta tahun 2018 tersedia vaksin hanya 600 dosis.

"Itupun bantuan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Pemprov Sulsel, jadi sangat mustahil jika tahun 2020 dicanangkan bebas rabies," jelas Rostiani.

Jika target tahun 2020 bebas rabies, maka Pemprov Sulsel dan Pemkab Toraja Utara harus turun tangan dengan pertimbangan semakin meningkat vaksinasi pada HPR, maka pengobatan akan berkurang.

Sebagai petugas di Dinas Pertanian dan Peternakan Toraja Utara, drh Rosita Silta berharap besar di Hari Rabies Sedunia pada tanggal 28 September nanti, Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Rabies Toraja Utara sudah menjadi Peraturan Daerah (Perda).

Sehingga Pemkab Toraja Utara akan mengalokasikan dana untuk pencegahan dan pengendalian rabies, agar target tahun 2020 dapat terjadi paling tidak kasus gigitan terjadi tidak positif rabies.

"Karena sangat miris apabila masyarakat mengeluhkan akan nasib hidup mereka karena vaksin anti rabies pada manusia sangat langkah serta biaya yang sangat mahal," tutupnya

Penulis: Risnawati M
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved