Kasus Rabies di Toraja Utara Meningkat, Pariwisata Terancam

Namun, daerah pariwisata ini terancam karena termasuk daerah endemis rabies dengan kasus gigitan anjing terbanyak.

Kasus Rabies di Toraja Utara Meningkat, Pariwisata Terancam
risnawati/tribuntoraja.com
Anjing yang sudah divaksin dan diberi tanda oleh Petugas Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Toraja Utara. 

Laporan Wartawan TribunToraja.com, Risnawati

TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO - Penyakit rabies di Kabupaten Toraja Utara, diklaim memiliki jumlah kasus yang paling tertinggi di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Padahal, daerah tersebut salahsatu destinasi wisata Sulsel yang memiliki kunjungan wisatawan mancanegara yang cukup tinggi.

Wisatawan mancanegara termasuk senang berjalan kaki sendiri dan berinteraksi dengan masyarakat lokal di Toraja.

Namun, daerah pariwisata ini terancam karena termasuk daerah endemis rabies dengan kasus gigitan anjing terbanyak.

"Keadaan yang terjadi di Toraja Utara selama ini, 96 persen penyakit rabies disebabkan anjing dan 4 persen kucing dan kera," tutur Kasie Kesehatan Hewan Bidang Peternakan, drh Rostiani Silta saat ditemui TribunToraja.com, Jumat (7/9/2018).

Berdasarkan data pemeriksaan sampel laboratorium kesehatan hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Toraja Utara, BBVet Maros sebagai laboratorium rujukan serta Dinas Kesehatan Toraja Utara, situasi penyakit rabies pada hewan dan manusia mengalami perkembangan.

Penyakit rabies pada hewan di tahun 2012 hingga 2016 mengalami keseimbangan jumlah kasus, yang terendah 267 kasus, tertinggi 439 kasus.

"Tahun 2017 kemarin terlaporkan 309 penyakit rabies pada hewan yang tertinggi berada di Kecamatan Sesean disusul Tallunglipu," jelas Rostiani.

"Sedangkan Januari hingga Juli 2018 terdapat jumlah gigitan sebanyak 410, positif rabies mencapai 306,80 persen," tambahnya.

Halaman
12
Penulis: Risnawati M
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help