Dama 20 dan IMM Baksos di Dusun Terpencil Maros

Sebelum baksos, para relawan ini terlebih dahulu melakukan penggalangan dana di Pantai Losari, Makassar

Dama 20 dan IMM Baksos di Dusun Terpencil Maros

Laporan: Wahyuningsih, Mahasiswi UIN Alauddin Makassar

MAROS, TRIBUN-TIMUR.COM - Komunitas Gerakan Muda Perindu Syurga (Gemas) 2018 menggelar bakti sosial di Dusun Holiang, Kecamatan Camba, Maros, Minggu-Rabu (26-29/8) lalu.

Bakti sosial yang dilakukan berupa pembagian sembako, pembagian buku, penyuluhan kesehatan gratis, penyuluhan lingkungan biogas, mengajar di sekolah, dan beberapa kegiatan lainnya.

Sebelum baksos, para relawan yang terdiri dari alumni Darul Aman (Dama) angkatan 20 dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ini, terlebih dahulu melakukan penggalangan dana di sekitar Monumen Mandala, Jl Jenderal Sudirman, Makassar. Dalam aksi penggalangan dana tersebut, para relawan ini berhasil mengumpulkan dana Rp 7 juta.

Ketua panitia baksos, Muhammad Azwar Hakim menjelaskan, mereka memilih Dusun Holiang sebagai lokasi baksos, karena lokasinya sangat terpencil dan sangat membutuhkan bantuan.
“Kalau kita bertanya kepada warga di sana, siapa presiden RI sekarang, mereka akan menjawab
Soeharto,” kata Azwar kepada Tribun malam tadi.

Holiang, menurut Azwar, terletak di daerah pegunungan. Untuk menuju ke daerah itu, butuh waktu kurang lebih satu jam perjalanan darat dari Kota Maros. Jalanan yang dilalui berkelok-kelok. Sebagian besar jalanan menuju Holiang adalah jalanan pengerasan dan jalurnya menanjak. Lokasi ini bisa diakses dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat off road.

Namun pada musim hujan, akses ke dusun ini sangat sulit karena sebagian jalannya rusak dan berkubang.

“Di sana hanya ada satu mobil hardtop yang sering naik. Itupun hanya untuk mengangkut getah dari Holiang. Untuk tenaga listriknya, warga menggunakan listrik tenaga surya. Sedangkan air bersih mengandalkan air sungai,” kata Azwar.

Sebagian besar warga Holiang bermata pencaharian sebagai pencari getah. getah-getah itu kemudian dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung. Kumpulan getah ini selanjutnya diangkut menggunakan mobil hardtop milik kepala desa untuk dipasarkan.(mg5/tribun-timur.com)

Editor: Muh. Irham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved