Cerita Aji Bangkit Pamungkas, Anak Penjual Air Galon Peraih Medali Emas Pencak Silat Asian Games

Pasangan Agus Widodo dan Anis Nurul Laili tak menyangka anak bungsunya, Aji Bangkit Pamungkas dapat menyumbangkan emas

Cerita Aji Bangkit Pamungkas, Anak Penjual Air Galon Peraih Medali Emas Pencak Silat Asian Games
KOMPAS.COM/DOK PRIBADI BANGKIT
Atlet pencak silat asal Ponorogo yang meraih medali emas Asian Games, Aji Bangkit Pamungkas (dua dari kanan) bersama ayahnya, Agus (dua dari kiri) dan dua kakaknya usai bertanding melawan pesilat asal Singapura. 

Bahkan ia sering menjuarai berbagai kejuaraan pencak silat tingkat perguruan tinggi. 

Bermodal prestasi itu, Agus pernah mengajukan keringanan biaya kuliah anaknya. Namun permohonan itu tidak dikabulkan pihak universitas. 

Usai meraih emas di Asian Games, Agus mengharapkan anaknya tidak cepat berpuas diri. Ia meminta Bangkit terus berlatih keras untuk meraih banyak prestasi di pencak silat

Terkait tawaran pemerintah pengangkatan menjadi PNS, TNI atau Polri bagi atlet peraih medali emas, Agus menyerahkan sepenuhnya kepada Bangkit. 

Ibunda Bangkit, Anis Nurul Laili, mengaku terenyuh dan bahagia begitu mendengar kabar anaknya menjadi juara. Hanya saja, saat Bangkit bertanding meraih emas, Laili tak bisa menyaksikan langsung. 

Saat Bangkit bertanding, Laili dalam perjalanan menuju Jakarta. Ia mendapatkan informasi Bangkit bertanding dalam final perorangan melawan atlet dari Singapura, Rabu (29/8/2018).

"Ternyata mainnya dimajukan tanggal 27. Jadi saya tidak bisa melihat langsung," kata Laili.

Kendati demikian, Laili mengaku tidak kecewa. Malahan ia bangga karena Bangkit akan memberangkatkan diri dan suaminya naik haji setelah menerima bonus dari pemerintah. 

Warga Desa Kertosari, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, ini mengatakan, untuk membesarkan empat anak-anaknya, Laili terpaksa berangkat kerja menjadi TKW di Taiwan.

Selama enam tahun (2010-2016) ia membanting tulang di Taiwan untuk menghidupi anak-anaknya setelah sang suami mengalami kecelakaan. 

"Enam tahun saya bekerja di Taiwan karena bapaknya Bangkit mengalami kecelakaan," kata Laili. 

Saat bekerja sebagai TKW, kata Laili, Bangkit masih duduk di bangku SD. Ia hanya mendapatkan kabar dari kakak dan suaminya terkait aktivitas Bangkit yang rajin berlatih pencak silat

"Saya mendapatkan kabar kalau Bangkit sering tidur di padepokan karena ingin serius berlatih pencak silat. Dan, alhamdulillah keseriusan dan kedisiplinannya berlatih membuahkan hasil saat ini," jelas Laili. 

Laili sempat hendak berangkat kembali bekerja sebagai TKW di Taiwan.

Namun anak-anaknya melarang.

Untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya, ia berjualan ikan bakar.(*)

Editor: Edi Sumardi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help