Tokoh Pemuda Asal Pinrang Ini Sebut Gerakan 2019 Ganti Presiden Berbahaya

Gerakan 2019 Ganti Presiden masuk kategori berbahaya dan membuka pintu makar dan perpecahan.

Tokoh Pemuda Asal Pinrang Ini Sebut Gerakan 2019 Ganti Presiden Berbahaya
handover
Tokoh pemuda asal Pinrang, Isra (30) 

Laporan Wartawan TribunPinrang.com, Hery Syahrullah

TRIBUNPINRANG.COM, WATANG SAWITTO - Gerakan deklarasi 2019 Ganti Presiden kini menjadi perbincangan hangat di publik. Apalagi pascaadanya penolakan dari masyarakat di berbagai daerah terkait gerakan tersebut.

Hal itu pun mengundang respon dari berbagai pihak. Tak terkecuali tokoh pemuda asal Pinrang, Isra (30).

Ia mengatakan, deklarasi itu boleh saja dilakukan. Tapi harus melalui proses demokrasi yang baik dan benar. Cara dan strateginya pun harus santun dan cerdas.

"Saya pikir, ada waktu dan tempat yang pas untuk gerakan semacam itu," kata Isra saat dikonfirmasi TribunPinrang.com, Selasa (28/8/2018).

Pria asal Benteng, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini menyebutkan, gerakan 2019 Ganti Presiden masuk kategori berbahaya dan membuka pintu makar dan perpecahan. Itu karena belum waktunya menyuarakan hal yang bersifat kampanye.

Baca: Deklarasi Ganti Presiden Batal di Dua Kota, Pengamat Politik Nilai Demokrasi Sulsel Lebih Hebat

Baca: Deklarasi 2019 Ganti Presiden di Pekanbaru Batal, Kenapa Neno Warisman Pulang? Ini Kata Polisi

"Di sisi lain, mestinya juga tidak usah sebut ganti presiden, cukup sebut siapa presiden yang diinginkan. Karena itu kurang etis dan cerdas, apalagi Jokowi masih menjabat sebagai presiden," tuturnya.

Menurutnya, masa kepemimpinan Jokowi sudah bagus dan perlu dikawal terus menerus. "Saya berani bilang bagus, karena sudah ada bukti dan datanya. Sementara calon yang lain masih sekadar omong dan janji," jelas Isra.

Memang, lanjutnya, masih banyak janji Jokowi yg belum terealisasi. Itu karena Jokowi turut sibuk menyelesaikan masalah yang ditinggalkan oleh presiden-presiden sebelumnya.

"Jadi soal janji yang belum terealisasi, harus pula dikaji secara objektif penyebabnya. Jangan asal kritik," ujarnya.(*)

Penulis: Hery Syahrullah
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help