Haul ke-73 KH. Daeng Digelar di Masjid Raya Al Hurriyah Tinambung Polman

Nama K.H Daeng diabadikan sebagai nama jalan dalam wilayah Kabupaten Majene, pada masa pemerintahan H.Abdul Rasyid Sulaiman

Haul ke-73 KH. Daeng Digelar di Masjid Raya Al Hurriyah Tinambung Polman
HANDOVER
Haul ke-73 KH. Daeng Digelar di Masjid Raya Al Hurriyah Tinambung Polman 

Sedangkan murid K.H Daeng banyak tersebar keberbagai penjuru termasuk banyak murid beliau berada di Jawa dan Sumatera diantara murid beliau adalah guru dari Annangguru Latif ( K.H. Abd Lathif Al Busyra) Pimpinan Pondok Pesantren Salafi Parappe Pambusuang yang mempunyai santri santriwati sekitar 3.000 orang dan guru beliau adalah K.H Mustofa yang menjadi murid dari K.H Daeng.

Yang cukup khas dari beliau, bahwa pendidikan ketiga putranya dididik langsung oleh beliau, sehingga anaknya yang juga muridnya bahkan anak mantunya sendiri jadi muridnya yaitu K.H Jalaluddin Gani yang juga menuntut ilmu di Makkah seangkatan dengan K.H Muhammad Saleh.

Murid K.H Daeng yang lain adalah K.H Abdullah Mubarak, K.H Sirajuddin Salam dan masih banyak lagi murid lainnya sampai ke daerah lain dan muridnya pun aktif dalam mengembangkan syi’ar Islam di tanah Mandar.

Dakwah K.H.Daeng

Kegiatan dakwah adalah menjadi prinsip yang harus dilakukan oleh seorang ulama atau sang kiai, beliau tidak ingin menyimpan ilmu yang dia miliki tinggal begitu saja dalam dirinya, sehingga tekad kuat dan semangat dakwah yang mengalir dalam darahnya dan menggelora dalam hati sanubarinya menjadikan K.H Daeng ulama kharismatik berkarakter dengan keteguhan sikapnya, kecerdasan pemikirannya keberanian menegakkan kebenaran.

Ketawadhuan yang dimilikinya, berjuang dalam Dakwah Bil Lisan dan Dakwah Bil Amal, ilmu dasar yang beliau miliki di tuangkan secara maksimal kepada para muridnya baik Ilmu Al-qur’an, Tajwid, Aqidah, Filsafat, Tasawuf, Nahwu Sharaf dan ilmu agama lainnya. Dengan berbagai variatif ilmu agama yang beliau miliki sehingga menjadikan beliau sebagai uswatun hasanah bagi para penerusnya.

Hasil Karya KH. Daeng

K.H Daeng melanjutkan hasil karya ayahandanya membangun masjid Nurul Asrar yang sekarang menjadi masjid Nurul Abrar serta menjadi pemrakarsa berdirinya masjid Mara’dia kerajaan Balanipa Tangnga-tangnga, Tinambung Polman, serta masih banyak lagi karya beliau yang belum terungkap dan belum dipublikasikan.

Keistimewaan dan Kharismatik KH. Daeng

Pernah suatu ketika K.H Daeng mengungsi ke perkebunan salama galung, pada waktu itu magrib beliau turun kesungai untuk berwudhu, tiba-tiba pohon bambu yang ada disekelilingnya menunduk, melihat keajaiban itu KH Daeng takjub kemudian beliau langsung berdo’a dan bermunajah kepada Allah SWT, semoga anak, cucu, cicit dan buyut saya dikarunia ilmu yang berberkah, memahami dengan baik ilmu agama dan Alhamdulillah do’a beliau menjadi kenyataan sampai saat ini.

Beliau diberi hidayah oleh Allah SWT sehingga mengetahui tanda-tanda kematiannya. Ada satu tempat obat yang selalu berisi minyak sebagai obat padahal tidak pernah diisi selama bertahun-tahun lamanya hal tersebut terjadi sehingga diakhir hayat beliau penutup botol dari salah satu pohon batang nipa yang dikenal dengan istilah bahasa Mandar Umba, berubah jadi batu.

Ciri khas kharismatik keberanian, berilmu namun tawadhu sabar dan tidak sombong serta ikhlas arif dan bijaksana. Contoh wibawa beliau adalah kalau beliau pergi ke masjid untuk mengajar santri-santrinya. Maka, santri-santrinya akan menunduk menanti beliau apabila santri-santrinya telah mendengar dari kejauhan bunyi langkah kaki dari K.H Daeng.

Contoh sifat keberanian dan ketagasan dalam mengambil keputusan turun kepada putra pertamanya yakni K.H Abd Fattah As’ad. Kemudian contoh kearifan, kesabaran dan sifat tawadhu yang dimiliki K.H Daeng turun kepada putra keduanya yakni KH Makmun As’ad. Kemudian contoh sifat keteguhan hati dari K.H Daeng turun ke putra ketiganya yakni K.H Djuaeni As’ad.

Nama K.H Daeng diabadikan sebagai nama jalan dalam wilayah Kabupaten Majene, pada masa pemerintahan H.Abdul Rasyid Sulaiman (Bupati Majene ke IV ).

Akhir Hayat KH. Daeng

Menghadap kepada pemilik alam jagad raya Al Khalik adalah suatu Qudrah Allah SWT., K.H Daeng menutup kisah dan perjalanan hidupnya didunia fana pada hari Kamis tanggal 16 Agustus 1945 bertepatan dengan 17 Ramadhan wafat dalam usia 74 tahun kemudian dimakamkan di Masjid Raya Al-Hurriyah Tinambung Polewali Mandar.

Namun beliau akan terus dikenang sebagai sang ulama kharismatik nan bersahaja. Jasad boleh berpindah namun kharismatik beliau yang diturunkan kepada ketiga putranya yang menjadi kiai. Sosoknyapun melahirkan putra-putri, cucu, cicit dan buyut yang berkiprah dalam berbagai lini, ada yang berkiprah di birokrasi salah satunya adalah DR.H. Fahmi Massiara, yang kini menjabat sebagai Bupati Majene.

Kemudian ada juga akademisi, organisasi sosial dan agama, seni, keartisan, kepolisian, beragam dalam kebersamaan dalam memberikan andil dan peran yang terbaik yang kita berikan untuk daerah yang kita cintai, Mandar pada khusunya dan Indonesia pada umumnya.(*)
Area lampiran

Penulis: Nurhadi
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help