Haul ke-73 KH. Daeng Digelar di Masjid Raya Al Hurriyah Tinambung Polman

Nama K.H Daeng diabadikan sebagai nama jalan dalam wilayah Kabupaten Majene, pada masa pemerintahan H.Abdul Rasyid Sulaiman

Haul ke-73 KH. Daeng Digelar di Masjid Raya Al Hurriyah Tinambung Polman
HANDOVER
Haul ke-73 KH. Daeng Digelar di Masjid Raya Al Hurriyah Tinambung Polman 

Beliau juga sebagai Qadhi Balanipa pada tahun 1940 berdasarkan SK Disctrik Belanda pada saat itu dan menjadi Qadhi di Majene pada tahun yang sama, beliau menjadi Qadhi di Balanipa pada masa Raja Balanipa Andi Baso Pabiseang.

Sebagai sosok imam dan ulama kharismatik yang berkarakter, menjadikan KH. Daeng diberi amanah sebagai Qadhi penghulu syara’ di Balanipa ( Tinamboeng ) pada tahun 1940 dengan SK 7 Maret 1940 selanjutnya diberi amanah juga sebagai Qadhi di Majene ( Mara’dianna Sara’ ) pada tahun 1940 berdasarkan SK pada Tgl 11 April 1940. ( Mara’dianna Sara’ ) jabatan seorang Qadhi adalah jabatan yang fundamental dan prinsipil karena mengurus masalah-masalah agama dalam semua lini.

Dengan dua jabatan yang diamanahkan padanya, beliau melaksanakan amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab dibantu oleh ketiga putranya yaitu K.H Abd Fattah, K.H Makmun As’ad dan K.H Djuaeni As’ad, ketika beliau udzur maka, qadhi di Balanipa dipercayakan kepada putra keduanya yaitu K.H. Makmun As’ad yaitu kita kenal dengan sebutan Qadhi Makmun (Puang Qadhi Ma’amun) sebagai Qadhi Balanipa.

Putra pertamanya K.H. Abd Fattah As’ad diamanahkan sebagai imam di Majene dan putra ketiganya K.H. Djuaeni As’ad diamanahkan sebagai imam di Kandemeng salah satu wilayah dalam Kabupaten Polmas pada saat itu, beliau hingga sekarang dikenal dengan istilah Imam Kandemeng.

Jabatan Qadhi Balanipa berikutnya diserahkan kepada anak mantunya yaitu K.H. Jalaluddin Gani dan raja pada saat itu adalah Ibu Agung Andi Depu.

Nama K.H. Daeng yang masyhur dan akrab di telinga masyarakat Mandar pada umumnya, adalah Kiai Haji Daeng, ( Puaji Daeng ) karena masyarakat pada saat itu sangat menghormati beliau, oleh karena masyarakat tidak mau menyebut nama secara langsung sehingga disebutlah KH Daeng (bahasa Mandar Poayi Daeng. red).

K.H. Daeng adalah putra dari K.H. Harun bin Rasyid putra bangsawan dari Banggae yang juga menyandang sebagai ulama dari tanah Mandar, sedangkan ibunya bernama Tanri (Puanna Ramuna) adalah seorang putri bangsawan Mandar cucu dari Jallanlino Mara’dia Topeyang, sehingga K.H. Daeng bukan hanya seorang ulama namun mengalir dalam darahnya mengalir darah ningrat yang bersendi Sara’.

K.H Daeng adalah anak pertama dari 5 bersaudara yaitu: K.H. Muhyiddin (Camba), Hj. Nuraeni (Binanga), K.H. Muhammad Said, dan Siti Fatima.

Dakwah yang dilakukan oleh K.H. Daeng bukan hanya dalam tataran berceramah dan pengajian namun dakwahnyapun dilakukan melalui washilah silaturahmi melalui pernikahan. K.H. Daeng menikah untuk pertama kalinya adalah dengan istrinya bernama Bengo, putri bangsawan Mandar dan Pa’bicara Kayyang di Balanipa dan melahirkan 3 orang putra (diseburkan di atas).

Ketiga anaknya juga menjadi kiai, ulama penerus ayahandanya yang tercinta. Kemudian beliau menikah dengan seorang putri bangsawan bernama Hj. Andi Suri ( Daenna Sokori ) dan melahirkan 2 putri Hj. Warda Kanna Yendeng dan Hj Raehan Daenna Ridu.

Halaman
1234
Penulis: Nurhadi
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help