Kesulitan Rerut Tenaga Kerja Lokal Jadi Alasan PT IMIP Pekerjakan Ribuan TKA

PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah kerap disoroti akibat mempekerjakan ribuan TKA

Kesulitan Rerut Tenaga Kerja Lokal Jadi Alasan PT IMIP Pekerjakan Ribuan TKA
CEO PT IMIP, Alexander Barus (tengah) 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Fahrizal Syam

TRIBUN-TIMUR.COM, MOROWALI - PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah kerap disoroti akibat mempekerjakan ribuan tenaga kerja asing (TKA) khususnya asal Tiongkok.

Menurut data PT IMIP per Agustus 2018, perusahaan yang mengelola kawasan industri berbasis nikel terbesar di Indonesia saat ini, mempekerjakan sekitar 28 ribu tenaga kerja, 3.121 di antaranya merupakan TKA.

Secara spesifik, di PT IMIP terdapat total 16 perusahaan yang mempekerjakan 25.447 tenaga kerja Indonesia, dan 3.121 tenaga kerja asing.

Baca: Melihat Lebih Dekat Kawasan Industri Berbasis Nikel Terbesar di Indonesia

Baca: Kelola Kawasan Industri Nikel Terbesar di Indonesia, PT IMIP Pekerjakan 82 Ribu Tenaga Kerja

Kantor Staf Presiden (KSP) mengajak sejumlah jurnalis cetak dan elektronik berkunjung ke PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah.
Kantor Staf Presiden (KSP) mengajak sejumlah jurnalis cetak dan elektronik berkunjung ke PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. (FAHRIZAL SYAM)

Sementara tenaga kerja tak langsung yang terserap dalam industri pendukung seperti supplier, kontraktor, dan sebagainya, sekitar 53.500 orang.

CEO PT IMIP, Alexander Barus menjelaskan, tiga ribuan TKA di IMIP, sebagian besar bekerja di bidang konstruksi, pekerjaan yang masih kurang bisa dikerjakan sendiri oleh tenaga kerja lokal, apalagi pabrik yang dibangun berasal dari Tiongkok.

"Memang ada beberapa yang hanya sedikit diisi oleh pekerja dari Tiongkok, kalau PLTU atau power plant kita tak perlu bergantung banyak ke mereka. Tapi begini, kalau beli AC yang pasang siapa, yah mereka kan, gak mungkin pasang sendiri. Tapi dalam proses pemasangan ini banyak karyawan kita yang harus bersaing," kata Alexander.

Alex mengatakan, terdapat perbedaan antara tenaga kerja lokal dangan asing, khususnya terkait etos kerja, dimana TKA dinilai memiliki etos kerja lebih baik, meski fasilitas yang diterima dari perusahaan sama dengan yang diterima tenaga kerja lokal.

"Etos kerja (pekerja) Tiongkok memang luar biasa, tapi kalau gaji kami sama. Kami sepakat ada tabel gaji, gajinya sama. Cuma orang Tiongkok ini setiap Sabtu dan Minggu mereka lembur, kita tidak, jadi pendapatannya lebih banyak," terangnya.

PT IMIP pun mengaku kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja lokal, karena banyak yang enggan ke Morowali untuk bekerja dan lebih memilih di Jawa.

"Perusahana sulit merekrut dari lokal, karena lulusan politeknik seperti ATMI ataupun Polman di Bandung, kebanyakan gak.mau ke Morowali, karena pekerjaan di Jawa banyak," tutur dia.

Kurangnya lulusan teknik juga menurut Alex menjadi salah satu alasan perusahaan merekrut banyak TKA di bidang teknik.

"Setahun paling perguruan tinggi luluskan 100-200 orang, sedangkan industri besar seperti ini membutuhkan ribuan tenaga kerja ahli seeprti itu," kata dia.

Meski demikian, lanjut Alex, PT IMIP telah memikirkan cara jangka panjang untuk dapat mengganti para tenaga kerja asing nantinya dengan tenaga kerja lokal.

"Kami sudah estimasi harus ganti mereka kemudian hari. Ada beberapa cara, salah satunya kami buat tandem pendampingan untuk bidang critcal, ruang kontrol power plant dulu satu TKA satu TKI. TKA mentransfer ilmunya, setelah itu mereka keluar," ucapnya. (*)

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved