Hadirnya Program GPN, Apakah Harus Diganti Kartu atau Bertambah?

Bank Indonesia (BI) kian gencar mengampanyekan penggantian kartu ATM mereka dengan yang berlogo GPN

Hadirnya Program GPN, Apakah Harus Diganti Kartu atau Bertambah?
TRIBUN TIMUR/MUHAMMAD ABDIWAN
Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan (Sulsel), Dwityapoetra Soeyasa Besar memaparkan materi Kebijakan Bank Indonesia Terkini: Moneter dan Makroprudential, pada Media Gathering Bank Indonesia 2018 Kantor Perwakilan BI Sulsel, di Hotel The Papandayan, Sabtu (28/4/2018) 

Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Bank Indonesia (BI) kian gencar mengampanyekan penggantian kartu ATM mereka dengan yang berlogo GPN sebagai implementasi dari program Gerbang Pembayaran Nasional.

Persoalannya, nasabah sudah memiliki kartu ATM dengan logo prinsipal yang lama, dalam hal ini penyedia jasa sistem pembayaran dari luar negeri seperti Visa maupun Mastercard.

Lantas, dengan hadirnya GPN, apakah kartu yang lama harus diganti ke GPN atau nasabah jadi mempunyai dua kartu nantinya?

Deputi Kepala BI KP Sulsel Dwityapoetra Soeyasa Besar yang dihubungi, Rabu (1/8/2018) menuturkan, hal itu diserahkan kembali sesuai kebutuhan masing-masing nasabah.

Kebutuhan yang dimaksud adalah seberapa sering transaksi dilakukan oleh nasabah, apakah lebih banyak di dalam atau dilakukan di luar negeri.

"Untuk transaksi di dalam negeri, dapat menggunakan kartu berlogo nasional (GPN), sedangkan untuk nasabah yang memiliki kecenderungan bertransaksi di luar negeri dapat memiliki kartu berlogo nasional untuk melakukan transaksi di dalam negeri dan kartu berlogo prinsipal internasional untuk transaksi di luar negeri," katanya.

Hadirnya program GPN ini di latarbelakangi kondisi yang dihadapi sekarang ini perlu direspon bersama khususnya BI, Pemerintah, dan Perbankan.

"Hal ini karena tekanan terhadap nilai tukar bersumber dari luar Indonesia. Sementara itu kita tetap perlu menjaga pertumbuhan ekonomi dan kredit," kata Poetra sapaanya.

Oleh karena itu, BI mengambil kebijakan yg bersifat pencegahan atau pre-emptive), front loading, dan ahead the curve untuk memperkuat stabilitas nilai tukar terhadap perkiraan kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi dan meningkatnya risiko di pasar keuangan global.

"Perbankan tentunya diharapkan menjaga likuiditas yang cukup dan tetap menyalurkan kredit karena pengaruh kenaikan suku bunga acuan tersebut terhadap kredit tidak linier dan perlu waktu (lag)," ujarnya. (*)

Penulis: Muhammad Fadly Ali
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved