OPINI

Opini Ostaf Al Mustafa: Unhas dan Buluh Sejarah Pengekangan Mahasiswa

Penulis adalah mantan anggota Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Universitas Hasanuddin

Opini Ostaf Al Mustafa: Unhas dan Buluh Sejarah Pengekangan Mahasiswa
dokumen FB
Ostaf Al Mustafa 

Elite birokrat tidak merawat nisan dan kuburan SMUH, sebagai sejarah yang bisa direpetisi.

Malah digali lubang besar untuk membuang jasad kehidupan mahasiswa dengan menggampangkan sanksi akademik dan DO. Ulah demikian membuat tingkat resistensi meninggi.

Ketika muncul kehendak dari atas untuk membuat lembaga kemahasiswaan tingkat universitas, maka kata terbaik dari mereka hanya berupa, “Tidak” dengan tiga tanda seru tak berspasi.

Begitu pun ketika para senior berdialog untuk menyoal kisruh terbaru, sekadar menjadikan SMUH sebagai buluh perindu.

Mereka berkumpul untuk mengiris-iris masalah kemahasiswan terkini.

Sebab memori itu langsung ditiup dari para pelaku sejarah, sehingga makin terdengar pilu dan sayu tertiup gemuruh pemberitaan di halaman utama dalam “Alumni Rindu SMUH” (Tribun Timur, Kamis, 26 Juli 2018).

Yang hilang dari ide pembentukan neo-SMUH atau apapun nama lembaga tersebut yakni tak ada sama sekali militansi kekuatan mahasiswa ala Amerika Latin.

Mereka memiliki aset tradisi intelektual dalam dunia akademik atau politik berupa Manifesto Cordoba 1918 atau Cogobierno.

Saat itu mahasiswa Cordoba, Argentina mengeluarkan sebuah manifesto yang menuntut otonomi universitas dan keterlibatan mahasiswa dalam mengelola administrasi universitas.

Histori Cogobierno 110 tahun lalu masih memiliki relevansi dengan sengkarut di Unhas.

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help