OPINI

Opini M Aliem: Susu Kental Manis (SKM) vs Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM)

Penulis adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Barru.

Opini M Aliem: Susu Kental Manis (SKM) vs Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM)
M Aliem 

Oleh: M Aliem
ASN di Badan Pusat Statistik Kabupaten Barru

Dua singkatan yakni SKM dan SKTM menjadi buah bibir masyarakat belakangan ini. Keduanya menjadi topik terhangat di tengah ingar-bingar pesta demokrasi yang baru saja usai.

Susu Kental Manis (SKM) dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) mengisi lembaran berita baik di media mainstream maupun media sosial.

Belakangan ini muncul polemik tentang keabsahan kandungan susu dalam kemasan produk Susu Kental Manis (SKM). Susu kental manis telah dikonsumsi masyarakat selama
puluhan tahun.

Dari generasi ke generasi. Tak pelak ini menimbulkan kebingungan karena penjelasan dari badan terkait yang masih berubah-ubah.

Mengutip kompas.com (11/7/2018), polemik mengenai susu kental manis timbul menyusul keluarnya Surat Edaran tentang ‘Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3)’.

Setelah itu, banyak masyarakat yang menganggap produk susu kental manis tidak memiliki kandungan susu sedikit pun.

Tetapi pada konferensi pers, Kepala BPOM menyatakan bahwa produk SKM masih memiliki kandungan susu yang diolah dan ditambahkan gula.

Baca juga: Kolom Abdul Karim: Ishak Ngeljaratan Bukan Kotak Kosong

Baca juga: Opini Aswar Hasan: Kolom Kosong Rasa Petahana

Hal yang perlu digarisbawahi adalah mengenai label iklan susu kental manis yang perlu diubah. Produk ini bisa digunakan sebagai bahan kue tapi tidak sebagai pengganti ASI pada bayi.

Apalagi selama ini iklan di televisi dan media lainnya selalu menampilkan anak-anak dengan embel-embel produk SKM itu sumber gizi.

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help