KLAKSON

Kolom Abdul Karim: Ishak Ngeljaratan Bukan Kotak Kosong

Penulis adalah mantan Direktur LAPAR Sulsel. Kini Senior Advisor Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Wilayah Sulawesi Selatan.

Kolom Abdul Karim: Ishak Ngeljaratan Bukan Kotak Kosong
Abdul Karim 

Kemanusiaan sebagai universalitas dan kemerdekaan yang haram ditekan ditunjukkan Ishak dalam berbagai bentuk fikirannya.

Di segala forum, ia pun menyerukan perbedaan tak boleh menjadi penyebab retaknya relasi kemanusiaan. Ia menganjurkan kerukunan dan perdamaian ditengah keragaman.

Ishak paham bahwa multikulturalitas dan atau pluralitas bukanlah kelemahan, tetapi ia sebagai kekuatan nyata. Untuk apa?

Untuk mewujudkan tata kemanusiaan dengan nilai-nilai universalitas serta ciri kemerdekaan dan kedamaian.

Memperjuangkan itu semua harus ditunaikan tanpa kekerasan. Seperti halnya Mahatma Gandhi, Ishak menolak kekerasan dengan segala alasan.

Sebab kekerasan kontraproduktif dengan nilai-nilai universalitas kemanusiaan. Dan bagi Ishak, kekerasan merontokkan keimanan.

Dalam hal keimanan, gagasan Ishak menyerupai pemikiran Gus Dur. Kita ingat, ucapan Gus Dur pada suatu waktu; “saya dan Romo Mangun berbeda agama, tapi satu iman,”.

Iman bagi kedua sosok ini bukanlah sebuah benteng kekar dan tertutup. Sebab benteng adalah tanda kecemasan dan kekuasaan.

Iman bagi mereka adalah sebuah obor yang tak pernah padam, menerangi gelapnya kebudayaan manusia.

Kebudayaan adalah proses yang tak pernah usai, karena itu ia memerlukan konsistensi. Ishak Ngeljaratan mengiktibarkan konsistensi dan kesederhaan yang bersahaja.

Halaman
123
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved