PT Vale Produksi 18.893 Ton Nikel di Triwulan Kedua 2018

-PT Vale Indonesia Tbk dipercaya pemerintah Indonesia untuk mengelolah tambang nikel di Sulsel, Sulteng, dan Sultra

PT Vale Produksi 18.893 Ton Nikel di Triwulan Kedua 2018
hasrul/tribuntimur.com
Karyawan PT Vale Indonesia Tbk yang mengoperasikan alat berat memindahkan material 

Laporan Wartawan Tribun Timur Hasrul

TRIBUN-TIMUR. COM, MAKASSAR -PT Vale Indonesia Tbk dipercaya pemerintah Indonesia untuk mengelolah tambang nikel di Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Tengah (Sulteng) dan Sulawesi Tenggara (Sultra).

Berdasarkan surat keputusan menteri ESDM tanggal 21 Maret 2017, PT Vale Indonesia Tbk diberikan lokasi seluas 70.566 hektar meliputi Sorowako dan Bulubalang Kabupaten Luwu Timur, Sulsel.

Sementara di Bahodopi (Sulteng) luas lahan diberikan ialah 22.699 hektar lalu di Pomala dan Suasua (Sultra) luasnya masing-masing 20.286 hektar dan 4.466 hektar. Dimana izin tersebut berlaku hingga 28 Desember 2025.

Namun Proses penambangan saat ini masih dipusatkan di Sorowako dengan menggunakan teknik Open Cast atau tambang terbuka karena biji nikel laterit sudah dapat ditemukan di kedalaman 15-20 meter dari permukaan tanah.

Biji nikel Sorowako yang berada di kulit bumi tersebut merupakan hasil pelukan batuan selama jutaan tahun yang juga dibarengi dengan proses tektonik atau tumpukan antar lempeng.

CEO dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Nico Kanter mengungkapkan bahwa Perseroan memproduksi 18.893 metrik ton (t) nikel dalam matte di triwulan kedua tahun 2018. Produksi tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan pertama tahun 2018.

"Produksi di triwulan kedua tahun 2018 lebih tinggi dibandingkan produksi di triwulan pertama tahun 2018 disaat sebagian besar aktivitas pemeliharaan yang telah direncanakan selesai. Kami pun optimis mencapai target produksi tahun ini sekitar 77 ribu ton," ungkap Nico.

Volume produsksi di triwulan dua tahun 2018 sekitar 10 persen lebih tinggi dibandingkan volume produksi yang direalisasikan di triwulan pertama tahun 2018. Secara year on year produksi di triwulan kedua tahun ini sekitar 6 persen lebih rendah dibandingkan produksi triwulan kedua tahun 2017.

"Penurunan ini disebabkan oleh adanya penundaan beberapa aktivitas pemeliharaan yang direncanakan hingga April 2018 yang semula dijadwalkan selesai Maret 2018," ungkap Nico melalui rilis diterima Tribun, Selasa (17/7/2018).

Selain itu produksi di triwulan pertama tahun 2018 adalah 4 persen lebih rendah dibandingkan di triwulan pertama tahun 2018 terutama disebabkan oleh tingkat kandungan nikel rata-rata yang lebih rendah di triwulan pertama tahun 2018. Namun demikian tingkat kandungan nikel telah kembali sesuai rencana mulai bulan Juni 2018.(*)

Penulis: Hasrul
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help