OPINI

Opini Syarifuddin Jurdi: Mengenang Ishak Ngeljaratan

Penulis adalah dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar (non-aktif).

Opini Syarifuddin Jurdi: Mengenang Ishak Ngeljaratan
Ishak Ngeljaratan (kiri) dan penulis saat diskusi di Kantor Tribun Timur, Senin (24/3/2014). 

Salah satu produk dari pertemuan para aktivis kebudayaan termasuk IN dan HL adalah berdirinya satu komunitas yang kemudian berkembang menjadi Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) yang secara resmi berada dalam naungan Kesbangpol Propinsi Sulawesi Selatan sederajat dengan FKUB dan FKDM. 

Pada periode pembentukan FPK, IN bersama HL menjadi penggerak utama dengan program prioritas untuk meredam kemungkinan terjadinya konflik dan kekerasan yang mengatasnamakan etnik, suku dan daerah.

FPK menurut spirit pembentukannya bukan sebagai alat pemadam kebakaran, tetapi sebagai instrumen yang merekatkan, memersatukan dan mengharmoniskan warga, khususnya relasi antar suku, etnik, budaya dan adat istiadat, termasuk agama.

Proses membaurnya warga menjadi point utama yang dilakukan oleh FPK untuk menghindari terjadinya benturan dan konflik dengan jalan tidak berpikir ekslusif, kelompoisme, sukuisme, golonganisme serta tidak menyesatkan diri.

Pembauran bertujuan untuk membongkar dinding pemisah antara etnik, suku, ras dan antar golongan agar dapat diminimalisasi, sembari mengakui eksistensi masing-masing etnik-suku.

Dalam rangka pembongkaran ini, IN selalu memberi penegasan bahwa perbedaan suatu keniscayaan, namun perbedaan bukanlah alat legitimasi untuk saling menghancurkan, melainkan potensi yang perlu dikembangkan untuk menguatkan kebangsaan dan keindonesiaan.

Oleh sebab itu, IN melalui FPK menghendaki adanya proses komunikasi dan kerjasama antara warga masyarakat yang diarahkan untuk menumbuhkan, memantapkan, memelihara dan mengembangkan pembauran kebangsaan dengan spirit dan keraifan lokal.

Pembauran tidak hanya diarahkan pada kaum tua, tapi justru jauh lebih strategis apabila pembauran itu mulai ditanamkan kepada kaum muda.

FPK melalui program Serambi Kampus telah membuat dan melaksanakan program yang melibatkan pelajar dan mahasiswa dari berbagai suku, etnik dan adat.

IN juga secara serius mengembangkan gagasan untuk mensinergikan dan merapikan proses pembauran melalui integrasi budaya dan agama agar kaum muda dapat memahami dan mengamalkan nilai agama dan budaya, dua pilar ini akan efektif meredam kemungkinan munculnya sikap ekstrem dan radikal di kalangan muda.

Pengurus FPK Propinsi Sulawesi Selatan tentu merasa kehilangan dengan perginya Pak Ishak Ngeljaratan menghadap sang Pencipta.

Selamat jalan guru, orangtua dan kolega kami. Warisanmu akan terus dirawat dan dikembangkan. (*)

Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help