OPINI

Opini Syarifuddin Jurdi: Mengenang Ishak Ngeljaratan

Penulis adalah dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar (non-aktif).

Opini Syarifuddin Jurdi: Mengenang Ishak Ngeljaratan
Ishak Ngeljaratan (kiri) dan penulis saat diskusi di Kantor Tribun Timur, Senin (24/3/2014). 

Menurut IN konsep hidup bersama itu keliru, bukan saja keliru, tapi salah, menurutnya yang tepat adalah hidup bersesama. Alasannya perbedaan suatu keniscayaan, tidak bisa dipaksakan untuk menjadi satu.

Kedua, manusia diciptakan Tuhan untuk berbeda, tidak ada satupun manusia yang identik dan sama.

Ishak Ngeljaratan (82)bersama keluarga.
Ishak Ngeljaratan (82)bersama keluarga. (FACEBOOK/Alub Buarlele)

Dimensi perbedaan ini menjadi fokus perhatian IN selama hidupnya, ia menyaksikan begitu banyak konflik dan kekerasan yang dihasilkan dari pemahaman dan pengamalan nilai-nilai sosial, agama dan budaya masyarakat yang berbeda.

Menurutnya perbedaan suatu keniscayaan. Dengan adanya perbedaan itu, maka manusia bisa menciptakan kehidupan yang dinamis untuk mencapai kemajuan.

Budaya yang berbeda serta keyakinan agama masing-masing individu yang beragam harus menopang kehidupan demokrasi yang beradab, bukan menghambat lajunya demokrasi dan kesejahteraan rakyat.

IN berkeyakinan bahwa demokrasi yang dibangun diatas pilar-pilar agama dan budaya yang berbeda akan dapat kokoh dan kuat mencapai kehidupan politik yang memihak kepada kemanusiaan.

Ketiga, ide objektifikasi agama dan budaya menjadi perhatian IN.

Dalam banyak forum yang saya ikuti bersama dengannya, selalu muncul istilah rahmatan lil’alamin suatu istilah yang biasanya fasih diucapkan oleh umat Islam, tetapi justru lebih fasih dan jelas maksudnya ketika IN yang memotret sisi rahmatan lil’alamin sebagai suatu identitas kemanusiaan, bukan identitas keagamaan Islam semata.

Karena misi nabi Muhammad SAW menurut IN yakni misi kemanusiaan dengan melakukan pemberdayaan dan emansipasi atau misi humanisasi.

Rahmatan lil’alamin sebagai upaya memanusiakan manusia, melindungi alam dan lingkungan sosialnya.

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved