Opini Syamsul Asri: Ad Hoc untuk Lintas Penyeberangan Bira-Pamatata

Pascakecelakaan KM Lestari Maju, hanya tinggal dua kapal yang disiapkan untuk pelayanan angkutan di lintas penyeberangan Bira-Pamatata

Opini Syamsul Asri: Ad Hoc untuk Lintas Penyeberangan Bira-Pamatata
tribun-timur.com
KMP Bonotoharu melakukan penyeberangan Bira ke Pamatata Selayar, Rabu (4/7/2018). 

Penyediaan Kapal

Pascakecelakaan KM Lestari Maju, hanya tinggal dua kapal yang disiapkan untuk pelayanan angkutan di lintas penyeberangan Bira-Pamatata, yaitu KMP Bontoharu dan KMP Tunu Pratama Jaya 2888. Namun, KMP Tunu Pratama Jaya 2888 tidak dioperasikan untuk sementara waktu karena mengalami kerusakan pada bagian mesinnya (Pelayaran Bira-Pamatata Selayar Kini Hanya Dilayani 1 Kapal Feri, http://makassar.tribunnews.com, Kamis, 5 Juli 2018 16:08).

Dinas Perhubungan Provinsi Sulsel melakukan uji coba olah gerak KMP Tunu Pratama Jaya 2888 dari Pelabuhan Pamatata Selayar ke Pelabuhan Bira Bulukumba, Senin (19/3/2018).
Dinas Perhubungan Provinsi Sulsel melakukan uji coba olah gerak KMP Tunu Pratama Jaya 2888 dari Pelabuhan Pamatata Selayar ke Pelabuhan Bira Bulukumba, Senin (19/3/2018). (nurwahidah/tribunselayar.com)

Kondisi ini mengisyaratkan perlunya penambahan kapal untuk memulihkan kelancaraan pelayanan angkutan di lintasan itu. Dalam jangka waktu singkat, kapal yang bisa disiapkan tentunya hanya kapal bekas. Namun, kondisinya harus lebih baik dari KMP Bontoharu. Sekadar catatan, KMP Bontoharu sudah berumur 15 tahun; diluncurkan pada 3 Maret 2003.

Baca: Pascakaramnya KM Lestari Maju, Hanya Kapal Feri Ini Layani Rute Bulukumba-Selayar

Baca: Kasus KM Lestari Maju, ACC Sulawesi Bilang Ada Dua Keanehan Statemen Polisi

Penyediaan kapal baru untuk lintas penyeberangan Bira-Pamatata seyogianya sudah menjadi perhatian pemerintah. Kapal baru yang dimaksud adalah kapal yang rancang-bangunnya secara khusus didasarkan pada analisis pemintaan jasa angkutan dan kondisi perairan di lintas penyeberangan Bira-Pamatata.

Analisis Permintaan

Survei dan analisis permintaan jasa angkutan diperlukan untuk menentukan pola operasi yang optimum, meliputi: frekwensi pelayaran, jumlah dan kapasitas muat kapal yang dibutuhkan. Dalam penentuan pola operasi, fluktuasi permintaan harus dipertimbangkan sehingga antrian pada musim puncak bisa diminimasi.

Survei dan analisis kondisi perairan dimaksudkan untuk menemukenali profil gelombang, pola arus, serta karakter hidro-osenografi lainnya di alur lintasan Bira-Pamatata. Hasil dari kedua kegiatan tersebut diperlukan sebagai persyaratan desain dalam penentuan ukuran dan karakter bentuk kapal yang layak.

Selanjutnya, desain engineering (bangunan, konstruksi, pemesinan, perlengkapan) dan pembangunannya harus benar-benar memperhatikan persyaratan teknis kelaiklautan kapal. Ha l ini terkait dengan keselamatan kapal.

Baca: Tim Polda Sulsel Belum Dapat Petunjuk Baru Soal KM Lestari Maju, Bupati Selayar Tidak Diperiksa?

Baca: Cerita Sopir Berenang Pakai Papan Kayu Tolong Bocah Ibnu Saat KM Lestari Maju Karam di Selayar

Berikut dengan kajian yang disebutkan di atas, survei kapasitas Pelabuhan Bira dan Pelabuhan Pamatata pun perlu dilakukan. Kajian ini diperlukan untuk memastikan perlu tidaknya peningkatan kapasitas di kedua pelabuhan simpul penyeberangan Bira-Pamatata.

Penempatan kapal baru merupakan langkah idealisasi penyelenggaraan angkutan penyeberangan di lintas penyeberangan Bira-Pamatata. Itu adalah penyesuaian dengan apa yang dicita-citakan oleh masyarakat Kepulauan Selayar. Semoga segera terwujud. (*)

*) Dr Ir Syamsul Asri MT
Dosen pada Departemen Teknik Perkapalan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Editor: Arif Fuddin Usman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help