OPINI

Opini Aswar Hasan: Kolom Kosong Rasa Petahana

Siapa sesungguhnya yang zalim di Pilwali Makassar? Makna kata zalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Opini Aswar Hasan: Kolom Kosong Rasa Petahana
TRIBUN TIMUR/HASRUL
Ketua Komisi Informasi Publik (KIP) Sulawesi Selatan (Sulsel) Aswar Hasan 

Politisasi Kezaliman
Pasca-terdiskualifikasi sebagai peserta Pilwali Makassar, DIAMI memosisikan diri sebagai pihak terzalimi.

Menurutnya, diskualifikasi DIAMI adalah bentuk penzaliman oleh kekuatan kekuasaan dan modal.

Demikian nada spin doctor dari pihak DIAMI. Pernyataan penzaliman itu, terkesan tendensius dialamatkan ke Appi-Cicu dengan mengaitkan keluarga di belakangnya.

Pertanyaannya, siapa sesungguhnya yang zalim? Makna kata zalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Ketika putusan PTTUN yang dikuatkan oleh MA untuk mendiskualifikasi DIAMI karena dianggap tidak menggunakan kewenangannya secara tepat terkait tagline dua kali tambah baik, pembagian HP di musim pilkada, dan tenaga honorer, maka apakah itu bukan perbuatan yang zalim menurut definisi tersebut?

Anehnya, untuk tidak mengatakannya sebagai sebuah tindakan licik dan keji secara politik, lantas status posisi kezaliman itu dieksploitasi dalam kampanye politik untuk sekaligus mendiskreditkan paslon Appi-Cicu sebagai pihak yang "menzalimi."

Sungguh aneh bin ajaib, tetapi tampak nyata, sebagaimana nyatanya kemenangan kolom kosong yang prosesnya penuh dengan tanda tanya.

Terlebih khusus, ketika DP dalam kapasitasnya yang sudah kembali menjabat Wali Kota Makassar secara berjamaah bersujud syukur atas kemenangan kolom kosong versi quick count.

Ini jelas ekspresi keberpihakan. Saya pun mulai mengerti, mengapa kolom kosong menang, karena kental beraroma petahana.

Maka pantas saja jika kemudian Penjabat Gubernur Sulsel Dr Sumarsono langsung menegur. Wallahu a'lam Bishawwabe. (*)

Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help