OPINI

Opini Aswar Hasan: Kolom Kosong Rasa Petahana

Siapa sesungguhnya yang zalim di Pilwali Makassar? Makna kata zalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Opini Aswar Hasan: Kolom Kosong Rasa Petahana
TRIBUN TIMUR/HASRUL
Ketua Komisi Informasi Publik (KIP) Sulawesi Selatan (Sulsel) Aswar Hasan 

Dalam situasi ini, ada anomali politik atas berjamaahnya segenap parpol untuk tidak mendukung petahana.

Padahal, jauh sebelum tahapan pilkada, sejumlah parpol telah merapat ke Danny Pomanto (DP).

Namun, pada saat memasuki tahapan penentuan usungan partai, segenap partai meninggalkan DP dan berjamaah mendukung pasangan penantangnya, Munafri Arifuddin dan Andi Rahmatika Dewi (Appi-Cicu).

Akibatnya, DP yang memilih berpasangan Indira Mulyasari dari Partai Nasdem yang kemudian dikenal dengan akronim DIA-MI memilih jalur independen.

Baca juga: OPINI: Problematika Tata Ruang Usai Pilwali Makassar

Baca juga: OPINI: Mengenal Had Kifayah

Anomali Politik
Menjadi tanda tanya mengapa segenap partai menalak tiga DP. Bagaimana mungkin terjadi kegagalan komunikasi politik yang dibangun sejak awal?

Pasti ada sesuatu yang bersifat prinsipal sehingga partai yang tadinya menyemut ke DP, tiba-tiba ramai berhijrah ke Appi-Cicu.

Apakah telah terjadi ketersinggungan psikologis politis partai, akibat tindakan komunikasi politik yang buruk, sehingga partai ‘melarikan diri?

Ataukah karena kalah menawar harga mahar politik untuk mendapatkan kendaraan politik?

Jika melihat LHK (Laporan Hasil Kekayaan) DP, maka rasanya-rasanya untuk kesanggupan membayar mahar politik, DP bisa saja berkompetisi untuk mendapatkan partai.

Dalam hal tersebut, partai-partai juga patut dipertanyakan komitmennya dalam menyajikan pilihan demokrasi kepada masyarakat.

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved