Citizen Reporter

Berkat Rumah Keramat Bentukan 5 Mahasiswa Unhas, Produk Anyaman Ibu-Ibu Takalar Ini Banjir Orderan

Berjalan dua bulan pemberdayaan, ibu-ibu di desa sampulungan mulai kebanjiran orderan atas produk anyaman yang merupakan hasil pemberdayaan

Berkat Rumah Keramat Bentukan 5 Mahasiswa Unhas, Produk Anyaman Ibu-Ibu Takalar Ini Banjir Orderan
Citizen Reporter
Komunitas Rumah Keramat. 

Citizen Reporter, Alim Bahri Azhari mahasiswa Unhas melaporkan dari Takalar

Sebanyak sembilan ibu-ibu yang berada di desa sampulungan, kabupaten Takalar, mengikuti program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh komunitas Rumah Keramat.

Pemberdayaan itu bertujuan agar ibu-ibu di desa tersebut menjadi terampil dan produktif.

Berjalan dua bulan pemberdayaan, ibu-ibu di desa sampulungan mulai kebanjiran orderan atas produk anyaman yang merupakan hasil pemberdayaan.

Rumah Keramat merupakan suatu komunitas pemberdayaan masyarakat yang bergerak pada pemberdayaan ibu rumah dengan taraf ekonomi miskin yang dilatih untuk menjadi ibu rumah tangga terampil sehingga dapat membantu penghasilan suami menuju rumah tangga sejahtera.

Komunitas ini didirikan oleh lima Mahasiswa Unhas yakni Muhammad Rizwan, Alim Bahri Azhari, Relly Syam, Edi Anugrah, dan Abdul Rahman yang bermula dari tim Program Kreativitas Mahasiswa Pemberdayaan Masyarakat (PKM-M) kemudian melihat realitas banyaknya rumah tangga miskin yang tidak produktif dan belum ada solusi pemberdayaan untuk masalah tersebut.

Komunitas yang terbentuk 14 Mei 2018 ini sedang melaksanakan program pemberdayaan pertamanya di desa Sampulungan, Kabupaten Takalar yang diberi nama Project 1.0 : Ibu Sampulungan Tersenyum (terampil melalui seni yang unik dan moderen). Komunitas rumah keramat menggunakan dana hibah PKM Kemenristekdikti dalam pelaksanaan program ini.

Dua bulan berjalan, ibu-ibu yang dilatih menganyam dan berwirausaha ini mulai banjir orderan “saat ini ibu-ibu fokus menyelesaikan pesanan dari pelanggan, sudah ada puluhan yang memesan, rata-rata mereka pesan songkok, dan sampai saat ini sudah ada sekitar 50 an produk laku terjual” ungkap Muhammad Riswan selaku ketua komunitas Rumah Keramat.

Lebih lanjut Riswan menjelaskan bahwa banyaknya pesanan ini karena promosi word of mouth yang diklaim sukses menarik pelanggan, selain itu pemasaran online melalui sosial media juga intens dilakukan. Kedepannya Rumah Keramat akan mengadakan pelatihan digital marketing agar setelah pemberdayaan usai, ibu binaan bisa mandiri dalam memasarkan produknya.

Hadirnya Rumah Keraat di desa Sampulungan benar-benar dirasakan manfaatnya bagi ibu-ibu yang menjadi objek pemberdayaan. “Alhamdulillah, karena Rumah Keramat saya bisa beli rice cooker sehingga masak jadi praktis dan punya banyak waktu untuk menganyam” tutur Ibu Aisyah, salah satu anggota program pemberdayaan ini.  Daeng Caya selaku anggota lainnya juga merasa kebutuhan primernya terbantu dengan adanya program ini. “Dari hasil penjualan produk saya gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah anak.” Tutur Daeng Caya

Penulis: CitizenReporter
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help